Bagaimana menginvestasikan Karakter Anda menjadi Aset SIKAP (Attitude) yang menguntungkan SEUMUR HIDUP? Menjual Tanpa Pernah Ditolak, Memimpin Dengan Otoritas, Menyelesaikan Konflik Menjadi Peluang dan Membuat Goal Setting, dengan KONSEP: Attitude Performance Indicator, Bimbingan Belajar dan "Money Back Guarantee" serta Free Lifetime Counseling.
Total Tayangan Halaman
Entri Populer
-
Setuju tidak setuju, adalah sebuah fakta bahwa pola pikir kita sangat menetukan cara kerja kita. Ketika masih duduk di bangku TK, kita...
-
MENGENAL TEKNIS dan NON-TEKNIS DALAM KESEIMBANGAN HIDUP Beberapa pertanyaan atau perdebatan cukup menarik ...
-
Widi Keswianto SE,MM,AFP,FChFP " Kita adalah Karunia Ciptaan Tuhan yang Luar Biasa yang sebenarnya berteknologi tinggi & memiliki...
-
Tweet Sepotong lagu yang selalu populer saat kita masih balita dan dipopulerkan langsung oleh orang tua atau orang terdekat kita saa...
Senin, 10 November 2008
Lesson from Obama
Mengapa di America,mereka dapat melakukan apa yang mereka lakukan dan menerima kekalahan secara "sportive" dan mendukung yang menang dalam pemilihan?
Karena mereka semua(hampir semuanya),mempunyai kebanggaan akan negaranya,U. S.A. dan mementingkan nasib Negaranya daripada dirinya sendiri.
Perasaan NATIONALISTIC inilah (dan bukan Individualistic) yang dinegara kita,Indonesia, perlu dikembangkan kembali bila kita mau maju.
BDT
MA 144 : BARRACK OBAMA, DEMOKRASI DAN KE-BHINNEKA TUNGGAL IKA-AN AMERIKA (6 Oktober 2008)
Obama telah resmi terpilih menjadi presiden AS ke-44 dengan kemenangan mutlak melawan John Mc. Cain. Dan dalam sejarah, inilah kali pertamanya Amerika dipimpin oleh seseorang yang mempunyai keturunan Afrika Kenya, berkulit hitam. Dia unggul atas Mc. Cain dengan 60 juta suara melawan 54 juta suara. Dan sejarah juga mencatat jumlah pemilih presiden kali ini merupakan yang terbanyak selama 100 terakhir yaitu sebanyak 135 juta orang.
Apa yang bisa kita petik dari pemilihan presiden AS ini?
Pertama, tentang demokrasi sendiri. Proses demokrasi yang ditunjukkan oleh Amerika bisa kita jadikan contoh bagaimana kita bersaing untuk jadi pemimpin. Perang hebat dengan kata-kata, bersaing keras dengan menunjukkan program, berdebat sengit dalam forum, tetapi tidak lupa berjabat tangan setelah semuanya selesai. Tentu kita semua masih ingat pada pidato Hillary Clinton pada konvensi Demokrat sebelumnya, yang mendukung Obama, ketika tahu dirinya sudah pasti kalah. Isi pidatonya kira-kira demikian, "Saya mengakui bahwa saya kalah dalam pemilihan ini, selamat untuk dia. Kini saya akan memberikan suara untuknya, dan juga menyerukan semua pendukung saya untuk memilihnya." Begitu juga dengan Mc. Cain yang 30 menit setelah Obama dinyatakan sebagai pemenang, langsung memberikan pidato pengakuannya "Terima kasih telah datang di sore hari yang indah di Arizona ini. Kita sudah pengakhiri pertarungan panjang. Amerika sudah berbicara dan nada
mereka sudah jelas. Beberapa saat lalu saya merasa terhormat untuk memberi ucapan selamat kepada Obama." Mc. Cain juga mengajak semua rakyat AS kini bersatu bersama Obama untuk menyelesaikan tantangan besar yang menghadang.
Hebat kan? Sementara kolumnis Kompas Budhiarto Sambazy mencatat, belum ada satu pun presiden Indonesia yang memberikan selamat kepada presiden pengganti berikutnya. Mulai dari Bung Karno, Pak Harto, Habibie, Gus Dur, Megawati tidak memberikan ucapan selamat kepada penggantinya, dengan -mungkin- berbagai alasan. Kita berharap SBY mau memberikan selamat kepada presiden penggantinya nanti, jika ia kalah dalam pemilihan.
Kedua, tentang ke-Bhinneka Tunggal Ika-an. Tampak terlihat bahwa AS (yang nota bene sangat bhinneka), yang dulu pernah punya masalah rasial keras (misal dengan gerakan Ku Klux Klan), kini makin lama makin terlihat Tunggal Ika-nya. Rakyat AS yang bukan kulit putih kini semakin bangga dan cinta dengan negaranya, karena AS telah berhasil membuktikan bahwa warna kulit dan ras bukan lagi merupakan masalah/ hambatan untuk maju. Indonesia yang jelas mempunyai semboyan "Bhinneka Tunggal Ika" harus malu, jika masih ada pertikaian antar desa, warga, suku, ras atau antar golongan lagi. Kasus-kasus seperti Ambon, Kalimantan, Banyuwangi, bentrok desa di Cirebon, tawuran kampus seperti diantara kampus UKI-YAI-UBK harus dihentikan, jika kita ingin menjadi bangsa besar yang Tunggal Ika.
Apakah ada relevansinya bagi kita di perusahaan? Jelas ada. Peruahaan yang analoginya adalah negara kecil, jelas akan lebih baik jika dijalankan dengan demokrasi (yang didasari dengan peraturan dan disiplin yang baik terlebih dahulu) dan ke-Bhinneka Tunggal Ika-an yang kuat. Jangan terjadi lagi pemilihan kandidat seorang manajer atau direktur membawa pertikaian antar calon, pendukungnya, atau bahkan sampai pada pertentangan antar divisi. Kita juga bisa belajar bahwa dalam pemberian remunerasi tidak boleh lagi berdasarkan ras, golongan, agama atau sukunya, tetapi dinilai dari performa, kinerja dan prestasinya.
Sebagai penutup,kita bisa lihat dua pendapat unik berikut ini:
Dari beberapa warga AS yang diwawancarai mengenai presiden AS dan kaitannya dengan ras: "Kami tak peduli, apakah presiden Amerika nanti berkulit putih, hitam, merah, oranye atau hijau sekalipun. Jika dia memang bisa membawa negara ini menjadi lebih baik, mengapa tidak?"
Atau yang lebih jauh lagi metafornya dari seorang sopir taksi, ketika membawa seorang dosen bepergian. Ketika dosen itu bertanya tentang presiden ideal untuk Indonesia, sang sopir berkata: "Saya sih gak mau peduli presiden kita mau dari golongan apa. Bahkan biar presiden saya Gorilla-pun, jika dia bisa membuat bangsa maju dan makmur, saya akan dukung. "
Selamat menjadi manusia yang melihat manusia bukan dari suku, ras, agama, golongan dan warna kulitnya...
Sabtu, 08 November 2008
WATER AND LIFE
A group of working adults got together to visit their University lecturer.
The Lecturer was happy to see them.
Conversation soon turned into complaints about stress in work and life.
The Lecturer just smiled and went to the kitchen to get an assortment of
cups - some porcelain, some in plastic, some in glass, some plain looking
and some looked rather expensive and exquisite.
The Lecturer offered his former students the cups to get drinks for
themselves.
When all the students had a cup in hand with water, the Lecturer spoke:
"If you noticed, all the nice looking, expensive cups were taken up,
leaving behind the plain and cheap ones.
While it is normal that you only want the best for yourselves, that is the
source of your problems and stress.
What all you wanted was water, not the cup, but we unconsciously went for
the better cups."
"Just like in life, if Life is Water, then the jobs, money and position in
society are the cups.
They are just tools to hold/maintain Life, but the quality of Life doesn't
change."
"If we only concentrate on the cup, we won't have time to enjoy/taste the
water in it."
To Understand Wife (which having C Characters)
A man walking along a
The man said, "Build a bridge to
The man thought about it for a long time. Finally he said, "Lord, I wish that I could understand my wife. I want to know how she feels inside, what she's thinking when she gives me the silent treatment, why she cries, what she means when she says 'nothing's wrong,' and how I can make a woman truly happy."
The Lord replied, "You want two lanes or four lanes on that bridge?"
The moral of this story:
Wife...think that it is impossible to have a husband to understand you. Start to express yourself or God will make four lanes that bridge...
Temu Kenali Kekuatan Anda
Sumber: Aribowo Prijosaksono dan Roy Sembel
DALAM bukunya yang berjudul Now, Discover Your Strengths yang didasarkan pada penelitian yang dilakukan oleh lembaga riset Gallup terhadap lebih dari 2 juta orang Amerika, Marcus Buckingham dan Donal O. Clifton, Ph.D menunjukkan, kunci utama untuk prestasi yang tinggi, kesuksesan dan kebahagiaan adalah melalui upaya untuk mendayagunakan kekuatan kita, bukan dengan mengoreksi atau mengatasi kekurangan dan kelemahan kita. Tahap pertama yang harus kita lakukan adalah menemukan dan mengenali kekuatan kita.
Sayangnya, sebagian besar kita tidak pernah menyadari bakat atau talenta dan kekuatan kita, apalagi kemampuan untuk mendayagunakan kekuatan tersebut dalam kehidupan kita sehari-hari. Bahkan sebaliknya, karena pengaruh orangtua kita, guru-guru kita, atasan kita, dan bahkan oleh para pakar psikologi, kita justru sangat ahli dalam mengetahui kelemahan kita dan menghabiskan hidup kita hanya untuk memperbaiki atau mengatasi kekurangan atau kelemahan kita tersebut. Kekuatan kita justru kita biarkan dan kita abaikan begitu saja.
Kita hidup dengan keyakinan bahwa baik adalah lawan dari buruk sehingga manusia selama berabad-abad berusaha untuk memperbaiki atau menyempurnakan kelemahan atau kekurangannya. Para dokter belajar tentang penyakit untuk mengetahui tentang kesehatan, para psikolog belajar tentang kesedihan atau gangguan kejiwaan untuk mengetahui tentang kebahagiaan atau kesehatan jiwa.
Di mana pun kita, di sekolah, di tempat bekerja, kita diajarkan untuk mengidentifikasi, menganalisis, dan mengatasi kelemahan atau kekurangan kita agar kita menjadi kuat. Banyak pendidikan dan pelatihan lebih diarahkan kepada upaya untuk mengatasi atau mengurangi kelemahan seseorang.
Hal ini bukannya salah, melainkan kurang dapat mengeluarkan potensi atau kekuatan terbaik yang dimiliki seseorang. Karena daya kekuatan seseorang memiliki pola yang berbeda dengan kelemahan yang dimilikinya.
Untuk sukses di bidang yang kita pilih serta menemukan kepuasan sejati dalam bidang tersebut, kita harus dapat memahami terlebih dahulu apa saja kekuatan kita. Kita harus dapat menemukenali, menerapkan, serta mendayagunakan kekuatan kita sehingga dapat sepenuhnya mendukung upaya kita dalam mencapai sasaran atau impian-impian kita. Janganlah fokus pada kelemahan atau kekurangan kita, tetapi justru kekuatan kitalah yang harus kita daya gunakan dan kita kembangkan.
Fokus pada Kekuatan Kita
Dalam bukunya The Power of Focus, Jack Canfield, dkk menyatakan bahwa salah satu strategi untuk senantiasa mencapai prestasi puncak dan meraih sasaran-sasaran dalam hidup dengan lebih pasti adalah dengan selalu fokus pada upaya mengembangkan kekuatan kita, bukannya kelemahan kita (build on your strengths, not your weaknesses). Lebih jauh dikatakan dalam buku tersebut: You must invest most of your time every week doing what you do best, and let others do what they do best.
Kita harus lebih banyak meluangkan waktu kita untuk melakukan hal-hal yang kita kuasai, dan membiarkan orang lain melakukan hal-hal yang mereka kuasai. Dengan kata lain, kita fokus pada kekuatan atau kelebihan kita. Konsultan bisnis terkenal Dan Sullivan bahkan mengatakan, ” If you spend too much time working on your weaknesses, all you end up with is a lot of strong weaknesses.” Artinya jika kita lebih banyak berupaya untuk mengatasi kelemahan kita, akhirnya kita akan memiliki banyak kelemahan yang semakin menonjol.
Semakin kita berlatih atau berusaha mengatasi kelemahan kita, semakin kita akan menjadi orang rata-rata, tetapi jika kita tekun berlatih untuk memaksimalkan kekuatan kita atau bakat kita, peluangnya jauh lebih besar kita akan sukses di bidang yang kita kuasai tersebut.
Contoh sederhana adalah misalnya seorang anak memiliki talenta di bidang musik, tetapi dia lemah dalam bidang eksakta. Namun karena ambisi orangtuanya, dia dipaksa untuk mengambil les di bidang matematika. Meskipun akhirnya dia lulus sebagai sarjana bidang akuntansi keuangan misalnya, tetapi dia tidak akan pernah menjadi yang terbaik di bidang tersebut. Dia hanya akan menjadi orang rata-rata.
Kita semua diberkati Tuhan dengan talenta atau bakat yang berbeda-beda dan unik. Setiap kita memiliki kelebihan dan kekuatan yang jika dapat kita latih dan kita kembangkan untuk semakin didayagunakan sehingga akhirnya kita dapat menjadi terbaik dengan talenta yang sudah Tuhan berikan kepada kita. Hal terpenting dalam seluruh kehidupan kita adalah menemukenali kekuatan atau talenta yang sudah Tuhan berikan kepada kita.
Pencarian atau penemuan talenta seseorang mungkin memerlukan waktu bertahun-tahun, bahkan kadang-kadang banyak dari kita tidak pernah menyadari apa sesungguhnya talenta kita. Bahkan kita sering membandingkan kelemahan atau kekurangan kita dengan kelebihan atau kekuatan orang lain. Tentu saja hal ini tidak adil sama sekali kepada diri kita sendiri.
Jim Carey, seorang komedian dan bintang film terkenal yang dibayar tidak kurang dari US$ 20 juta setiap filmnya, memiliki bakat yang sangat unik. Dia dapat memutar dan melipat-lipat tubuh dan wajahnya pada posisi yang sangat tidak biasa.
Seringkali dia tampak seperti terbuat dari karet. Ketika remaja, dia menghabiskan waktu berjam-jam setiap hari melatih dirinya di depan cermin. Dia juga menyadari bahwa dia sangat ahli dalam menirukan gerak dan kebiasaan orang lain (impersonations), dan hal inilah yang dia latih dan kembangkan terus-menerus jam demi jam, hari demi hari, tahun demi tahun hidupnya.
Tentu saja banyak sekali hambatan dan tantangan yang dihadapi Jim Carey dalam perjalanannya menuju ke puncak bintang. Banyak sekali momen saat dia ragu dan merasa tidak percaya diri, akankah dia dapat menjadi bintang film yang terkenal suatu hari nanti.
Kemudian dia meningkatkan cara fokusnya dengan menggunakan teknik visualisasi. Dia menulis cek sebesar 10 juta dolar dan memberi tanggal tertentu di masa depan, dan menyimpan cek itu di saku bajunya.
Ketika dia merasa ragu dan jatuh, ketika dia mengalami saat-saat yang berat, dia akan pergi ke tempat yang sunyi di atas bukit dan memandang kota Los Angeles dan membayangkan dirinya adalah seorang bintang besar di Hollywood. Kemudian dia membaca kembali cek yang ditulisnya sebagai pengingat akan takdirnya sebagai bintang besar suatu hari nanti.
Hal menarik dari kisah hidup Jim Carey adalah beberapa tahun setelah dia menulis cek tersebut, dia menandatangani kontrak perjanjian senilai lebih dari sepuluh juta dolar untuk membintangi film The Mask. Tanggalnya? hampir sama dengan tanggal yang ditulisnya dalam cek yang dia simpan terus selama ini.
Apa yang bisa kita petik dari kisah Jim Carey adalah pertama kita harus fokus pada kekuatan atau kelebihan kita. Kedua nyatakan keinginan atau impian kita dalam bentuk visualisasi (tulisan, gambar, dll) dengan target atau sasaran dan jangka waktu yang jelas. Ketiga adalah latihan atau kerja keras untuk meningkatkan atau mengembangkan kekuatan dan kelebihan kita sehingga melebihi siapapun dalam talenta atau bakat tersebut. Tidak ada keunggulan tanpa latihan atau kebiasaan yang dilakukan secara terus menerus selama bertahun-tahun.
Antara Bakat, Pengetahuan, dan Keterampilan (talents – knowledge – skills)
Kekuatan atau kelebihan kita merupakan gabungan dari ketiga hal tersebut, yaitu bakat, pengetahuan, dan keterampilan. Apakah bedanya bakat, pengetahuan, dan keterampilan. Bakat adalah pola pikir, perasaan, atau perilaku alami yang kita miliki. Pengetahuan adalah fakta-fakta dan pelajaran yang kita pelajari dalam hidup ini. Keterampilan adalah hal-hal atau langkah-langkah yang kita kuasai karena kita melatih atau melakukannya secara terus-menerus.
Sebagai contoh, seseorang memiliki bakat atau talenta di bidang musik. Jika dia terus belajar (misalnya menulis dan membaca not balok atau belajar cara komposisi misalnya), kemudian juga dia berlatih terus secara konsisten minimal 6 jam sehari selama lebih dari sepuluh tahun, dan senantiasa fokus pada bidang tersebut, dapat dipastikan dia akan menjadi musisi yang terkenal.
Apakah Bakat Itu?
Bakat sering dijelaskan sebagai ” suatu kemampuan atau kebisaan alami”, tetapi para penulis buku Now, Discover Your Strengths mendefinisikan talenta atau bakat sebagai ” suatu pola yang terus menerus berulang dari pikiran, perasaan atau perilaku seseorang yang dapat diterapkan secara produktif.” Jadi jika misalnya anda adalah orang yang selalu ingin bertanya, maka hal tersebut merupakan talenta anda.
Beberapa contoh yang dimaksudkan dengan bakat oleh para penulis buku tersebut antara lain: inquisitive, competitive, persistent, responsible bahkan sifat-sifat negatif seperti obstinate (keras kepala), nervous, bahkan penyakit seperti dyslexia (kesulitan dalam merangkai kata-kata yang sulit) merupakan talenta jika kita justru dapat mendayagunakannya secara produktif dalam membantu kita meningkatkan unjuk kerja kita.
Aspek Apakah yang Dapat Kita Ubah? Pengetahuan dan Keterampilan
Jika talenta adalah pemberian alami yang dianugerahkan Tuhan kepada kita, pengetahuan dan keterampilan adalah aspek dalam kekuatan kita yang dapat kita perbaiki, kita tambah dan kita tingkatkan. Ada dua jenis pengetahuan, yaitu: factual knowledge dan experiential knowledge (pengetahuan faktual dan pengetahuan yang berdasarkan pengalaman).
Pengetahuan faktual adalah pengetahuan dasar yang harus dimiliki seseorang untuk mempelajari atau menguasai suatu bidang tertentu. Misalnya Anda belajar bahasa, pengetahuan faktual yang harus dimiliki adalah vocabulary atau arti setiap kata dalam bahasa yang kita pelajari.
Pengetahuan jenis kedua yang harus kita kuasai biasanya tidak diajarkan di sekolah atau tidak ditemukan dalam buku panduan. Pengetahuan ini tumbuh dan berkembang dari pengalaman karena kita melakukan pekerjaan atau mempraktekkan pengetahuan faktual yang kita miliki. Setiap situasi atau kondisi menawarkan peluang untuk menambah pengetahuan eksperiensial kita, sedangkan setiap proses belajar menambah pengetahuan faktual kita.
Keterampilan merupakan pengetahuan eksperiensial yang dilakukan secara berulang dan terus-menerus secara terstruktur sehingga membentuk kebiasaan dan kebisaan baru seseorang.
Jadi akhirnya yang disebut dengan kekuatan (strengths) kita yang dapat menjadikan kita yang terbaik dalam bidang tertentu adalah gabungan dari adanya bakat, pengetahuan yang memadai, dan keterampilan karena berlatih secara konsisten dalam jangka panjang. Masalahnya adalah banyak dari kita tidak mengetahui apa sebenarnya bakat atau kekuatan kita. Hal inilah yang menjadi tema utama buku Now, Discover Your Strengths.
Kedua penulis atau organisasi mereka, the Gallup International Research & Education Center, telah menciptakan suatu program revolusioner untuk membantu para pembacanya mengidentifikasi talenta atau bakat mereka, mengembangkannya menjadi daya kekuatan, dan mencapai unjuk kerja yang konsisten dan mendekati sempurna.
Inti dari buku tersebut adalah StrengthsFinder® Profile yang berbasis internet yang dapat digunakan untuk mengidentifikasi talenta seseorang. Program tersebut memperkenalkan sebanyak 34 tema dominan dengan ribuan kemungkinan kombinasi yang membentuk kekuatan atau kelebihan seseorang.
Dalam mengembangkan program tersebut, Gallup telah melakukan pengamatan dan riset terhadap lebih dari dua juta individual selama lebih dari 30 tahun penelitian. Hasil riset ini akan membantu kita untuk dapat mengenali talenta kita dan fokus sehingga kita dapat mencapai unjuk kerja yang mendekati sempurna secara konsisten (consistent, near-perfect performance).
Untuk dapat mengidentifikasi talenta kita, maka kita harus terlebih dulu mengetahui nomer identifikasi (ID number) yang ada di balik sampul buku tersebut, yang merupakan kunci akses kepada program StrengthsFinder® Profile yang bisa kita akses melalui internet. Jika kita sudah mengetahui tema kepribadian kita – apakah kita termasuk Achiever, Activator, Futuristic, Strategic, atau Maximizer – kita akan dapat mempelajari bagaimana mendayagunakan talenta tersebut untuk mengembangkan dan membangun kekuatan yang menjadikan kita berhasil dalam setiap bidang apapun yang sesuai dengan kekuatan kita tersebut.
Izinkanlah saya menceritakan sebuah kisah yang saya kutip dari buku karangan Anthony de Mello, S.J. yang berjudul Awareness sebagai berikut:
Seorang lelaki pada suatu hari menemukan sebuah telur burung rajawali dan dia meletakkan telur itu bersama dengan telur-telur ayam di sarang seekor induk ayam peliharaan yang sedang mengeram. Telur itu menetas bersama telur ayam yang lain, dan anak burung itu tumbuh bersama anak-anak ayam diasuh oleh induk ayam itu.
Selama hidupnya burung rajawali itu bertingkah laku seperti ayam, dan menganggap dirinya ayam peliharaan. Dia mengais tanah untuk mencari cacing dan serangga. Dia berkotek dan berkokok. Dia akan mengepak-ngepakkan sayapnya dan terbang beberapa meter di udara.
Tahun berlalu dan burung rajawali itu menjadi tua. Suatu hari dia melihat seekor burung yang sangat gagah terbang di angkasa yang tak berawan. Burung itu melayang dengan anggun dan berwibawa dalam hembusan angin yang kuat, dia hanya membentangkan sayapnya dan jarang sekali menggerakkan sayapnya itu.
Rajawali tua itu terpesona memandang ke atas. ” Siapakah itu?”, tanyanya.
” Itu adalah burung rajawali, raja dari segala burung,” kata ayam yang ada didekatnya. ” Dia penghuni langit dan kita penghuni bumi, kita adalah ayam.” Demikianlah rajawali itu hidup terus dan mati sebagai seekor ayam, karena begitulah anggapan tentang dirinya.
Demikan pula kita seringkali tidak menyadari potensi terbaik atau talenta yang diberikan Tuhan kepada kita. Jika kita dapat mengenali dan menemukan talenta tersebut, yang perlu kita lakukan adalah senantiasa terus menerus mengembangkan talenta tersebut melalui proses pembelajaran terus menerus (continuous learning) dan berlatih dengan keras sampai kita mencapai consistent, near-perfect performance.
KEPALA IKAN
Alkisah pada suatu hari, diadakan sebuah pesta emas peringatan 50 tahun pernikahan sepasang kakek -nenek. Pesta ini pun dihadiri oleh keluarga
besar kakek dan nenek tersebut beserta kerabat dekat dan kenalan.
Pasangan kakek-nenek ini dikenal sangat rukun, tidak pernah terdengar oleh siapapun bahkan pihak keluarga mengenai berita mereka perang mulut. Singkat kata mereka telah mengarungi bahtera pernikahan yang cukup lama bagi kebanyakan orang. Mereka telah dikaruniai anak-anak yang sudah dewasa dan mandiri baik secara ekonomi maupun pribadi. Pasangan tersebut merupakan
gambaran sebuah keluarga yang sangat ideal.
Disela-sela acara makan malam yang telah tersedia, pasangan yang merayakan peringatan ulang tahun pernikahan mereka ini pun terlihat masih sangat
romantis. Di meja makan, telah tersedia hidangan ikan yang sangat menggiurkan yang merupakan kegemaran pasangan tersebut. Sang kakek pun, pertama kali melayani sang nenek dengan mengambil kepala ikan danmemberikannya kepada sang nenek, kemudian mengambil sisa ikan tersebut untuknya sendiri.
Sang nenek melihat hal ini, perasaannya terharu bercampur kecewa dan heran.
Akhirnya sang nenek berkata kepada sang kakek:
"Suamiku, kita telah melewati 50 tahun bahtera pernikahan kita. Ketika engkau memutuskan untuk melamarku, aku memutuskan untuk hidup bersamamu dan menerima dengan segala kekurangan yang ada untuk hidup sengsara denganmu walaupun aku tahu waktu itu kondisi keuangan engkau pas-pasan. Aku menerima hal tersebut karena aku sangat mencintaimu. Sejak awal pernikahan kita, ketika kita mendapatkan keberuntungan untuk dapat menyantap hidangan
ikan, engkau selalu hanya memberiku kepala ikan yang sebetulnya sangat tidak aku suka, namun aku tetap menerimanya dengan mengabaikan
ketidaksukaanku tersebut karena aku ingin membahagiakanmu.
Aku tidak pernah lagi menikmati daging ikan yang sangat aku suka selama masa pernikahan kita. Sekarangpun, setelah kita berkecukupan, engkau tetap memberiku hidangan kepala ikan ini. Aku sangat kecewa, suamiku. Aku tidak tahan lagi untuk mengungkapkan hal ini."
Sang kakek pun terkejut dan bersedihlah hatinya mendengarkan penuturan sang nenek. Akhirnya, sang kakek pun menjawab:
"Istriku, ketika engkau memutuskan untuk menikah denganku, aku sangat bahagia dan aku pun bertekad untuk selalu membahagiakanmu dengan memberikan yang terbaik untukmu. Sejujurnya, hidangan kepala ikan ini adalah hidangan
yang sangat aku suka. Namun, aku selalu menyisihkan hidangan kepala ikan ini untukmu, karena aku ingin memberikan yang terbaik bagimu. Semenjak menikah denganmu, tidak pernah lagi aku menikmati hidangan kepala ikan yang
sangat aku suka itu. Aku hanya bisa menikmati daging ikan yang tidak aku suka karena banyak tulangnya itu. Aku minta maaf, istriku."
Mendengar hal tersebut, sang nenek pun menangis. Merekapun akhirnya berpelukan. Percakapan pasangan ini didengar oleh sebagian undangan yang
hadir sehingga akhirnya merekapun ikut terharu.
MORAL OF THE STORY:
Kadang kala kita terkejut mendengar atau mengalami sendiri suatu hubungan
yang sudah berjalan cukup lama dan tidak mengalami masalah yang berarti,
kandas di tengah-tengah karena hal yang sepele, seperti masalah pada cerita
di atas. Kualitas suatu hubungan tidak terletak pada lamanya hubungan tersebut, melainkan terletak sejauh mana kita mengenali pasangan kita
masing-masing. Hal itu dapat dilakukan dengan komunikasi yang dilandasi
dengan keterbukaan. Oleh karena itu, mulailah kita membina hubungan kita
berlandaskan pada kejujuran, keterbukaan dan saling menghargai satu sama lain. Seperti sudahkah TAHU DIRI SENDIRI dan TAHU PASANGAN kita?
Cats in the craddle (I wanna be like you, Dad....)
Suatu hari suami saya rapat dengan beberapa rekan bisnisnya yang kebetulan
mereka sudah mendekati usia 60 tahun dan dikaruniai beberapa orang
cucu. Di sela-sela pembicaraan serius tentang bisnis, para kakek yang
masih aktif itu sempat juga berbagi pengalaman tentang kehidupan
keluarga di masa senja usia.
Suami saya yang kebetulan paling muda dan masih mempunyai anak balita, mendapatkan pelajaran yang sangat berharga, dan untuk itu saya merasa berterima kasih kepada rekan-rekan bisnisnya tersebut. Mengapa? Inilah kira-kira kisah mereka.
Salah satu dari mereka kebetulan akan ke
tolong diatur tiket kepulangannya melalui
kerumah anaknya yang bekerja di
Di situlah awal pembicaraan "menyimpang" dimulai. Ia mengeluh,
"
"Kalau saya telepon dulu, pasti nanti dia akan berkata jangan datang sekarang
karena masih banyak urusan. Lebih baik datang saja tiba-tiba, yang
penting saya bisa lihat cucu."
Kemudian itu ditimpali oleh rekan yang lain.
"Kalau Anda jarang bertemu dengan anak karena beda
"Anak saya yang tinggal satu
"Saya dan istri kadang-kadang merasa begitu kesepian, karena kedua anak saya jarang berkunjung, paling-paling hanya telepon."
laki-lakinya, yang istrinya baru melahirkan di salah satu
Amerika.
Ketika sampai dan baru saja memasuki rumah anaknya, sang anak sudah bertanya,"Kapan Ayah dan Ibu kembali ke
"Bayangkan! Kami menempuh perjalanan hampir dua hari, belum sempat istirahat sudah ditanya kapan pulang."
Apa yang digambarkan suami saya tentang mereka, adalah rasa kegetiran dan
kesepian yang tengah melanda mereka di hari tua. Padahal mereka adalah
para profesional yang begitu berhasil dalam kariernya.
Suami saya bertanya, "Apakah suatu saat kita juga akan mengalami hidup
seperti mereka?" Untuk menjawab itu, saya sodorkan kepada suami saya
sebuah syair lagu berjudul Cat's In the Cradle karya Harry Chapin.
Beberapa cuplikan syair tersebut saya terjemahkan secara bebas ke dalam
bahasa Indonesia agar relevan untuk konteks
Serasa kemarin ketika anakku lahir dengan penuh berkah. Aku harus siap
untuknya, sehingga sibuk aku mencari nafkah sampai 'tak ingat kapan
pertama kali ia belajar melangkah. Pun kapan ia belajar bicara dan
mulai lucu bertingkah.
Namun aku tahu betul ia pernah berkata,
"Aku akan menjadi seperti Ayah kelak"
"Ya betul aku ingin seperti Ayah kelak"
"Ayah, jam berapa nanti pulang?"
"Aku tak tahu 'Nak, tetapi kita akan punya waktu bersama nanti, dan tentu saja kita akan mempunyai waktu indah bersama"
Ketika saat anakku ulang tahun yang kesepuluh; Ia berkata,
"Terima kasih atas hadiah bolanya Ayah, wah ... kita bisa main bola bersama. Ajari aku bagaimana cara melempar bola"
"Tentu saja 'Nak, tetapi jangan sekarang, Ayah banyak pekerjaan sekarang"
Ia hanya berkata, "Oh ...."
Ia melangkah pergi, tetapi senyumnya tidak hilang, seraya berkata, "Aku akan seperti ayahku. Ya, betul aku akan sepertinya"
"Ayah, jam berapa nanti pulang?"
"Aku tak tahu 'Nak, tetapi kita akan punya waktu bersama nanti, dan tentu aja kita akan mempunyai waktu indah bersama"
Suatu saat anakku pulang ke rumah dari kuliah; Begitu gagahnya ia, dan aku
memanggilnya, "Nak, aku bangga sekali denganmu, duduklah sebentar
dengan Ayah"
Dia menengok sebentar sambil tersenyum,"Ayah, yang aku perlu sekarang adalah meminjam mobil, mana kuncinya?"
"Sampai bertemu nanti Ayah, aku ada janji dengan kawan"
"Nak, jam berapa nanti pulang?"
"Aku tak tahu 'Yah, tetapi kita akan punya waktu bersama nanti dan tentu saja kita akan mempunyai waktu indah bersama"
Aku sudah lama pensiun, dan anakku sudah lama pergi dari rumah;
Suatu saat aku meneleponnya. "Aku ingin bertemu denganmu, Nak"
Ia bilang, "Tentu saja aku senang bertemu Ayah, tetapi sekarang aku tidak
ada waktu. Ayah tahu, pekerjaanku begitu menyita waktu, dan anak-anak
sekarang sedang flu. Tetapi senang bisa berbicara dengan Ayah, betul
aku senang mendengar suara Ayah"
Ketika ia menutup teleponnya, aku sekarang menyadari; Dia tumbuh besar persis seperti aku; Ya betul, ternyata anakku "aku banget".
Rupanya prinsip investasi berlaku pula pada keluarga dan anak. Seorang investor yang berhasil mendapatkan return yang tinggi, adalah yang selalu peduli dan menjaga apa yang
diinvestasikannya. Saya sering melantunkan cuplikan syair tersebut
dalam bahasa aslinya,
"I'm gonna be like you, Dad, you know I'm gonna be like you",
kapan saja ketika suami saya sudah mulai melampaui batas kesibukannya.
Jumat, 07 November 2008
Kura-kura dan Kelinci
Setiap orang pasti tahu tentang kisah tentang kura-kura dan kelinci. Apa yang kebanyakan orang tidak mengetahui adalah pelajaran yang berharga tentang kerja sama kelompok dalam cerita tersebut.
Zaman dahulu, ada kura-kura dan seekor kelinci yang berdebat tentang siapa lebih cepat. Mereka yang akhirnya putuskan untuk berlomba.
Begitu perlombaan dimulai, kelinci melesat di depan dengan cepat untuk sekali.. Menyadari bahwa kura-kura akan butuh waktu yang lama untuk mengejarnya, maka kelinci mencari pohon untuk berteduh. Ketika dia jatuh terlelap, kura-kura dengan pasti menyusulnya dan memenangi perlombaan. Kelinci terbangun dan menyadari dia telah kalah ketika kura-kura memasuki garis akhir.
Moral dari kisah tersebut adalah: KERJA KERAS dan KONSISTEN akan memenangi KECEPATAN tapi CEPAT PUAS DIRI.
Kisah berlanjut:
Kelinci yang menyadari kekalahannya, meminta pertandingan ulang, dan kura-kura menerima tantangan ini.
Sekarang, kelinci dengan segenap kekuatannya berlomba dengan tidak berhenti sampai di garis akhir memenangi pertandingan.
Moral dari kisah ini: CEPAT & KONSISTEN pasti memenangi LAMBAT tapi MANTAP.
Tetapi kisah ini belum berakhir:
Sekarang, kura-kura merenungi dan menyadari bahwa kalau kelinci tidak berhenti maka tidak ada harapan dia bisa memenangi pertandingan. Oleh karena itu kura-kura mengajak bertanding di tempat dan rute yang berbeda. Dan tentu saja kelinci menyambutnya.
Dengan belajar dari pengalaman terdahulu, maka kelinci segera lari dan terus lari hingga akhirnya dia terpaksa harus berhenti di tepi sungai karena tidak bisa berenang dan juga tidak ada jembatan disekitarnya. Dan kura-kura menyusulnya kemudian berenang sampai ke garis akhir diseberang sungai di hadapan kelinci.
Moral dari kisah ini: KETAHUI KEKUATAN-KEKUATANMU dan terima tantangan dimana kemampuan terkuat engkau miliki.
Kisah ini masih diteruskan lagi:
Mengingat mereka sekarang sudah sering ketemu dan menghabiskan waktu bersama-sama saat bertanding, maka mereka menjadi sahabat yang baik, saling menghormati bahwa mereka memang berbeda dan masing-masing memiliki keunggulan-keunggulan yang berbeda-beda. Dan kali ini mereka memutuskan untuk berlomba lagi, hanya sekarang sebagai satu regu.
Begitu perlombaan dimulai, kelinci segera membopong kura-kura dan berlari cepat hingga tiba di tepian sungai, dimana kura-kura gantian yang membawa kelinci menyeberangi sungai sampai di tepi seberang sungai yaitu di garis akhir secara bersama-sama. Mereka menyelesaikan pertandingan dengan kepuasan yang luar biasa karena bisa begitu cepatnya waktu yang dicapai dibandingkan bila mereka harus berlomba sendiri-sendiri.
Moral dari kisah ini: Adalah baik dan bagus bila secara individu seseorang itu begitu cemerlang dan mempunyai kemampuan-kemampuan utamanya (kompetensi) yang sangat kuat. Tetapi kebanyakan dari kita yang bekerja sendiri cenderung bekerja dibawah prestasi rata-rata, karena pasti akan ada situasi dimana selalu ada yang kurang baik kita lakukan dilakukan orang lain dengan lebih baik. Kecuali kita mampu mengkombinasikan kemampuan tersebut ke dalam suatu regu.
Kerja sama kelompok terutama adalah kepemimpinan situasional, yang membiarkan seseorang dengan kompetensinya memimpin berdasarkan situasi. Menjadi anggota kelompok yang mendukung adalah mutlak untuk keberhasilan kelompok.
Ada lagi pelajaran dari kerja sama kelompok dalam kisah ini, yaitu tidak ada satupun dari peserta yang menyerah atas kegagalannya. Kelinci memutuskan untuk kerja lebih keras dan berusaha atas kegagalannya. Kura-kura mengubah strategi karena walaupun dia sudah habis-habisan, tapi masih belum sesuai dengan yang diinginkan.
Bayangkan, berapa lamanya si kelinci harus belajar kursus berenang. Atau buat kura-kura untuk belajar lari cepat. Pada waktu dan usia sekarang dimana perubahan sangat cepat terjadi, kita harus belajar bersama orang-orang yang memiliki kekuatan dimana kita tidak miliki.
Sama juga didalam bisnis, bila kita bisa kolaborasi dengan orang-orang yang ahli dibidangnya yang kita tidak kuasai, kita akan menyadari bahwa pasar kita menjadi sangat besar.
Cerita ini diadaptasi dari penulis tak dikenal.
.
Serigala Baik VS Serigala Jahat
Kelompok etnis Cherokee adalah salah satu suku asli di Amerika Utara.
Berikut ini adalah dongeng tetua suku yang sedang mengajarkan kehidupan
kepada cucu lelakinya.
“Sebuah pertempuran terjadi di dalam diriku,” katanya kepada cucunya.
“Itu adalah pertempuran yang kejam antara dua ekor serigala.
Yang satu jahat – ia adalah kemarahan, iri hati, sakit hati, penyesalan, keserakahan, kesombongan, suka mengasihani diri sendiri, merasa bersalah,
mudah tersinggung, merasa rendah diri, kebohongan, harga diri yang rendah,
merasa hebat, dan egois.
Yang lain baik – ia adalah kebahagiaan, damai, cinta, harapan, ketentraman,
kerendahan hati, kejujuran, perhatian, dan kepercayaan.
Pertempuran yang sama juga terjadi dalam dirimu dan
di dalam diri setiap orang lain juga.”
Sang cucu memikirkan hal itu selama beberapa saat dan
kemudian bertanya kepada kakeknya,”Serigala mana yang menang, kek?”
Tetua suku Cherokee itu dengan tenang menjawab,
“Cucuku, tentunya yang kauberi makan.”
Serigala mana yang Anda beri makan? Keputusan ada di tangan Anda.
Dalam buku A Course in Miracles dikatakan bahwa,
“Setiap keputusan adalah pilihan antara CINTA dan KETAKUTAN.”
Seyogianya kita membuat pilihan atas cinta, dengan memberi makan serigala kedua. Namun, kemanusiaan kita yang lemah menggoda kita untuk kembali membuat pilihan berdasarkan ketakutan. Kita pelihara serigala pertama.
Bukankah dunia ini kejam? Bukankah semboyan yg kita dengar,
'Si vis pacem, para bellum', jika ingin berdamai, bersiaplah untuk perang?
Teramat sering guru dan ortu memicu dan memacu semangat persaingan yang keliru kepada anak2 kita. Kita mendidik mereka agar menjadi jawara dengan mengalahkan semua orang. Seolah hidup ini hanya berarti bagi yang bisa menjadi nomor wahid.
Bukankah lebih baik, jika
" kita bersaing dengan prestasi diri terakhir dan bekerja sama dengan orang lain?”
Jika nilai ulangan mat terakhir anak Anda 7, kobarkan semangatnya agar ulangan berikut minimal 8. Itu bagus.Tapi tidak perlu Anda memaksa dia tidak tidur semalam untuk memusuhi dan mengalahkan teman yg tanpa belajar pun dapat 10. Anjurkan dia bersahabat baik dengan siapa pun. Siapa tahu berkat persahabatan dengan si pandai itu,
anak Anda mendapat penjelasan yg lebih memuaskan dp penjelasan guru?
Beranikah kita mencoba mengajarkannya kepada anak2 kita?
Setiap keputusan adalah pilihan, antara cinta dan ketakutan.
Semoga bermanfaat!
Have a nice weekend !
pH60
Kamis, 30 Oktober 2008
The Temperament Factor: Who's Best Suited to the Job?
(Obama VS Mc Cain)
By Nancy Gibbs Wednesday, Oct. 15, 2008
http://www.time.com/time/politics/article/0,8599,1850921,00.html
Of all the false intimacies of modern life, the promise of a presidential campaign may be the most misleading. We think we know these men well enough to judge them. They come into our living rooms every night, plying us with insight and confession; we know the prayers they say and the beer they drink, their tics, their tastes, their talismans.
But both John McCain and Barack Obama insist that there are things a campaign can't tell you about the temperament of an aspiring President. "Who is the real Barack Obama?" McCain asks, as he runs ads attacking his opponent's "bad instincts" and dangerous lack of judgment. Obama argues the reverse: You can't trust McCain because the one thing you know is that you never know what he'll do next. He's an impulsive hothead who is "erratic in a crisis." Is that really the guy you want steering through a storm?
That Obama's fortunes rose as the markets sank shows how central temperament has become in the homestretch of the presidential race. Only weeks ago, you might have expected that McCain's greater experience and his courage in the clutch would lift him as a leader in a moment of crisis. Yet the turn of the polls suggests the reverse; without taking a dramatically different approach on substance, Obama won this round on style and disposition. Both candidates supported the bailout, and both call for tax cuts and policing of markets, but in tenor, they were polar opposites. Temperament is in the eye of the voter. Is one response evidence of composure and self-possession — or of being too laid-back and unassertive? Is the other response a sign of urgency and decisiveness or a frantic lack of control?
A funny thing happens when you sit down with historians and ask them what presidential temperament is and when it matters and whether voters make a mistake to let it count for much. What emerges is that temperament is as elusive as it is essential. George W. Bush probably wasn't lying in the 2000 campaign when he promised a humble foreign policy. He just had no idea what was coming. F.D.R. probably was lying when he promised the anxious parents of 1940 that "your boys are not going to be sent into any foreign wars." Always be sincere, Harry Truman said, even if you don't mean it. The presidency is less an office than a performance: Who saw the gloom and glower behind Eisenhower's incandescent grin? This is why temperament descends easily into caricature: the feisty Give-'Em-Hell Harry, the cool-as-crystal Kennedy, the Vesuvian Lyndon Johnson. "We've taken temperament and turned it," warns presidential historian Richard Norton Smith of
So at this crucial moment, what do we make of the two men before us, the passionate Maverick and the cool-handed Hopemonger, Mr. Fire and Mr. Ice? Does the crucible of a campaign actually give you a glimpse of their souls? And does anything that happens on the trail have any bearing on what would happen after they take the oath of office?
Find the rest at:
http://www.time.com/time/politics/article/0,8599,1850921,00.html
