Seminar BMCHK: Bakat Minat Cita2 Hobi dan Karakter = Mengenali cara belajar 7 MENIT seseorang anak, guru dan orang tua untuk karir bersama-sama.
Bagaimana menginvestasikan Karakter Anda menjadi Aset SIKAP (Attitude) yang menguntungkan SEUMUR HIDUP? Menjual Tanpa Pernah Ditolak, Memimpin Dengan Otoritas, Menyelesaikan Konflik Menjadi Peluang dan Membuat Goal Setting, dengan KONSEP: Attitude Performance Indicator, Bimbingan Belajar dan "Money Back Guarantee" serta Free Lifetime Counseling.
Total Tayangan Halaman
Entri Populer
-
Setuju tidak setuju, adalah sebuah fakta bahwa pola pikir kita sangat menetukan cara kerja kita. Ketika masih duduk di bangku TK, kita...
-
MENGENAL TEKNIS dan NON-TEKNIS DALAM KESEIMBANGAN HIDUP Beberapa pertanyaan atau perdebatan cukup menarik ...
-
Widi Keswianto SE,MM,AFP,FChFP " Kita adalah Karunia Ciptaan Tuhan yang Luar Biasa yang sebenarnya berteknologi tinggi & memiliki...
-
Tweet Sepotong lagu yang selalu populer saat kita masih balita dan dipopulerkan langsung oleh orang tua atau orang terdekat kita saa...
Sabtu, 29 Oktober 2011
Jumat, 14 Oktober 2011
Mengapa Pimpinan Sulit Menilai Bawahan?
Mengapa Pimpinan Sulit Menilai Bawahan?
http://bestcharacters.blogspot.com/2011/10/mengapa-pimpinan-sulit-menilai-bawahan.html
http://www.careplusindonesia.com/article.php?idarticle=38
Di salah satu sesion program Passion of Teamwork, salah satu topik yang muncul adalah demikian. Seorang karyawan selama ini merasa yang paling berhak menilai prestasi adalah atasan ybs.
Kami selalu mencoba menunjukkan realitas yang sebenarnya, bahwa amat sangat sulit seorang atasan menilai bawahannya dengan obyektif bila tidak dibantu dari ybs untuk unjuk prestasi. Salah satu contoh biasanya kami meminta salah seorang Supervisor atau bahkan Owner untuk dibuat “role play” yang didengarkan oleh para peserta.
Pertanyaannya adalah sbb: “Apabila Anda bekerja keras setiap hari dan pulang jam 20-21 saat tiba di rumah Anda selalu menyaksikan pembantu rumah Anda selalu sedang santai, nonton TV atau Video sambil baca2 majalah yang semuanya milik Anda, apakah yang Anda rasakan?”. Sebagian besar dari para “majikan” lansung mengatakan bahwa adanya perasaan kesal, marah dan/atau sebal”. Kemudian kami tanyakan “ Mengapa dan bagaimana kemungkinan pembantu tsb bisa dinaikkan gajinya atau ditambah kerjaan?”. Selaras dengan pernyataan mereka tadi, bahwa kemungkinan kenaikan gaji tidak maksimal atau ditambah kerjaan. Kami ingatkan kembali, mereka bisa saja sudah santai karena sudah bekerja dan menyelesaikan semua pekerjaan, mengapa kita bisa menjadi demikian “subyektif” dan menghakimi dengan perasaan tersebut.
Demikianlah kondisi seorang “atasan” yang melihat hanya satu anak buahnya, apalagi bila seorang atasan memiliki anak buah yang banyak, sangat subyektif sekali bukan kalau tidak mau disebut “sangat sulit menilai bawahan”? Kemudian kami mencoba menejelaskan kondisi yang bisa saja mirip terjadi, yaitu ada kalanya seorang karyawan sedang apes, saat santai dan main game, kepergok oleh atasannya cukup sering. Apakah nasib sang karyawan akan bisa mirip dengan kondisi sang pembantu tadi? Hasil kerja keras setahun bisa saja dirusak oleh apesnya kejadian tadi.
Sekarang bayangkan bila sang pembantu pada jam-jam tertentu melaporkan bahwa ybs sudah menyelesaikan tugas-tugas dan hal-hal terkait, lalu sang pembantu melanjutkan dengan bertanya “bolehkah saya menonton atau membaca atau santai/beristirahat”? Semua majikan pasti menyetujui tindakan tersebut. Masalahnya adakah pembantu diajarkan cara tersebut? Mungkin bila para TKI kita diajarkan Passion of Teamwork mereka akan bisa unjuk prestasi juga di depan para majikan dan bukannya ditambah-tambah kerjaannya hanya karena lagi “apesnya” sang pembantu.
Bagi Anda sendiri silahkan menilai, manakah sebenarnya yang layak secara obyektif menilai diri Anda, 100% oleh Atasan (yang belum tentu melihat Anda bekerja) atau seluruh Team 360 derajat? Apa yang dinilai, tentunya prestasi dari diri Anda seutuhnya yang sangat mungkin lebih baik daripada hanya “copy”-an JOB DESCRIPTION. Bisa juga Anda mengevaluasi, team kita lebih terlatih mana: unjuk rasa atau unjuk prestasi?
Cerita lain yang lebih menggambarkan Program Passion of Teamwork (BKPI with Free Lifetime Counceling Guarantee) bisa di klik di: http://www.careplusindonesia.com/article.php?idarticle=33 dan http://www.careplusindonesia.com/article.php?idarticle=37
Salam Karakter,
Ir. William Wiguna, CPHR., CBA., CPI.
Care Plus Indonesia®
The First Life Time® Program & Counseling
PIN BBM: 2144922D
Twitter @williamwiguna
FB: William Wiguna
HP: 0818-839469, 021-94746539
william.wiguna@gmail.com
william@careplusindonesia.com
www.careplusindonesia.com (NEW, REDESIGNED!)
www.bestcharacters.blogspot.com
http://bestcharacters.blogspot.com/2011/10/mengapa-pimpinan-sulit-menilai-bawahan.html
http://www.careplusindonesia.com/article.php?idarticle=38
Di salah satu sesion program Passion of Teamwork, salah satu topik yang muncul adalah demikian. Seorang karyawan selama ini merasa yang paling berhak menilai prestasi adalah atasan ybs.
Kami selalu mencoba menunjukkan realitas yang sebenarnya, bahwa amat sangat sulit seorang atasan menilai bawahannya dengan obyektif bila tidak dibantu dari ybs untuk unjuk prestasi. Salah satu contoh biasanya kami meminta salah seorang Supervisor atau bahkan Owner untuk dibuat “role play” yang didengarkan oleh para peserta.
Pertanyaannya adalah sbb: “Apabila Anda bekerja keras setiap hari dan pulang jam 20-21 saat tiba di rumah Anda selalu menyaksikan pembantu rumah Anda selalu sedang santai, nonton TV atau Video sambil baca2 majalah yang semuanya milik Anda, apakah yang Anda rasakan?”. Sebagian besar dari para “majikan” lansung mengatakan bahwa adanya perasaan kesal, marah dan/atau sebal”. Kemudian kami tanyakan “ Mengapa dan bagaimana kemungkinan pembantu tsb bisa dinaikkan gajinya atau ditambah kerjaan?”. Selaras dengan pernyataan mereka tadi, bahwa kemungkinan kenaikan gaji tidak maksimal atau ditambah kerjaan. Kami ingatkan kembali, mereka bisa saja sudah santai karena sudah bekerja dan menyelesaikan semua pekerjaan, mengapa kita bisa menjadi demikian “subyektif” dan menghakimi dengan perasaan tersebut.
Demikianlah kondisi seorang “atasan” yang melihat hanya satu anak buahnya, apalagi bila seorang atasan memiliki anak buah yang banyak, sangat subyektif sekali bukan kalau tidak mau disebut “sangat sulit menilai bawahan”? Kemudian kami mencoba menejelaskan kondisi yang bisa saja mirip terjadi, yaitu ada kalanya seorang karyawan sedang apes, saat santai dan main game, kepergok oleh atasannya cukup sering. Apakah nasib sang karyawan akan bisa mirip dengan kondisi sang pembantu tadi? Hasil kerja keras setahun bisa saja dirusak oleh apesnya kejadian tadi.
Sekarang bayangkan bila sang pembantu pada jam-jam tertentu melaporkan bahwa ybs sudah menyelesaikan tugas-tugas dan hal-hal terkait, lalu sang pembantu melanjutkan dengan bertanya “bolehkah saya menonton atau membaca atau santai/beristirahat”? Semua majikan pasti menyetujui tindakan tersebut. Masalahnya adakah pembantu diajarkan cara tersebut? Mungkin bila para TKI kita diajarkan Passion of Teamwork mereka akan bisa unjuk prestasi juga di depan para majikan dan bukannya ditambah-tambah kerjaannya hanya karena lagi “apesnya” sang pembantu.
Bagi Anda sendiri silahkan menilai, manakah sebenarnya yang layak secara obyektif menilai diri Anda, 100% oleh Atasan (yang belum tentu melihat Anda bekerja) atau seluruh Team 360 derajat? Apa yang dinilai, tentunya prestasi dari diri Anda seutuhnya yang sangat mungkin lebih baik daripada hanya “copy”-an JOB DESCRIPTION. Bisa juga Anda mengevaluasi, team kita lebih terlatih mana: unjuk rasa atau unjuk prestasi?
Cerita lain yang lebih menggambarkan Program Passion of Teamwork (BKPI with Free Lifetime Counceling Guarantee) bisa di klik di: http://www.careplusindonesia.com/article.php?idarticle=33 dan http://www.careplusindonesia.com/article.php?idarticle=37
Salam Karakter,
Ir. William Wiguna, CPHR., CBA., CPI.
Care Plus Indonesia®
The First Life Time® Program & Counseling
PIN BBM: 2144922D
Twitter @williamwiguna
FB: William Wiguna
HP: 0818-839469, 021-94746539
william.wiguna@gmail.com
william@careplusindonesia.com
www.careplusindonesia.com (NEW, REDESIGNED!)
www.bestcharacters.blogspot.com
Minggu, 09 Oktober 2011
Selasa, 04 Oktober 2011
3 Faktor Pelatihan PASTI Efektif
http://www.careplusindonesia.com/article.php?idarticle=37
Sedikitnya ada 3 faktor utama yang justeru sering diabaikan oleh para pengambil keputusan, pelatih, dan peserta. Kami mengumpulkan cukup banyak data dan silahkan Anda lakukan sendiri uji coba sbb:
1. Retention: Coba tanyakan kepada teman atau relasi kita seberapa ingat ybs mengingat suatu pesan yang untuk mudahnya yang diterima saat mendengarkan suatu ceramah (entah hari Minggu atau Jumat dsb). Seberapa persen masih diingat pesan "penting" tersebut. Kalau perlu ditanyakan kembali pesan yang dia terima 2 minggu lalu. Anda akan kaget bahwa walau sang pembicara "luar biasa" penyampaiannya, dalam kondisi khusuk dan tempat/lingkungan yang tepat begitu rendahnya "retention" seseorang terhadap sebuah pesan. Jangan ditanya seberapa ingat mereka akan pesan dari atasan saat di kantor/tempat kerja. Bila skor yang Anda survey ada diatas 25% maka itu sudah lumayan.
2. Repetition: Beberapa cara dilakukan untuk mencegah "retention" atau lupa nya seseorang akan sebuah pesan, maka dilakukan "repetition". Contoh ringkasnya adalah sbb: seorang anak harus tahu bahwa target akhir tahun yang diharapkan orang tuanya adalah naik kelas. Bayangkan apabila sang anak harus diingatkan terus setiap hari soal "naik kelas" atau contoh bagi seorang karyawan target yang harus dikejar tiap hari. Apa akibat yang muncul? Kemungkinan besar adalah munculnya rasa stress. Apabila tim Anda masih di atas 50% bersedia diingatkan soal target rutin (minimal menerima telpon/menjawab SMS Anda) maka sudah termasuk lumayan. Situasi makin rumit sekarang bukan?
3. Subyektifitas: Hal tesebut diatas diperparah oleh adanya unsur Subyektifitas sang manusia. Sebagai contoh, bagi seorang owner/pemilik perusahaan adalah sangat-sangat-sangat wajar bila mengingatkan soal "Perusahaan harus untung sebesar-besarnya dengan biaya yang serendah-rendahnya" karena ini merupakan teori ekonomi mutlak. Akan tetapi apabila hal tersebut disampaikan pemilik terus menerus dalam sebuah rapat, maka kemungkinan besar sebagian karyawan akan pulang memberi tahu isterinya kira-kira apa ya soal kenaikan gaji tahun ini? Sebaliknya kalau saatnya sang anak pemilik perusahaan bertanya kepadanya untuk minta petunjuk mencari perusahaan untuk magang, sebagian besar akan memberikan jawaban kepada sang anak untuk mencari perusahaan yang "bonafid" atau jelasnya mampu memberikan gaji tertinggi dan karena ini menyangkut sang anak, maka diembeli dengan pesan "jangan kerja terlalu keras nanti sakit". Kelihatannya normal bukan? Akan tetapi hal inilah yang disebut contoh subyektifitas, yaitu pesan kepada karyawan dan kepada anak bisa 180 derajat berbeda. Mungkin ditempat Anda kasusnya berbeda, akan tetapi karyawan bisa melihat pasti ada "anak emas" atau "kambing hitam" dalam suatu organisasi. Apabila Anda survey yakin tidak ada istilah "anak emas" atau "kambing hitam" yang menjadi issue dalam organisasi Anda, maka unsur subyektifitas bukanlah momok dalam organisasi Anda.
Dengan adanya salah satu atau kesemua ketiga hal tersebut di atas, tentunya efektifitas suatu TRAINING atau bahkan Penyampaian suatu PESAN (MISI dan VISI) perusahaan menjadi mubazir.
Apabila Anda sudah mencoba mensurvey dengan cara di atas dan sungguh-sungguh ingin mendapatkan solusi atas ke tiga masalah tersebut berdasarkan dari 20 perusahaan yang sudah proven, maka jangan takut untuk berdiskusi dengan kami untuk bersama kita ambil solusinya sehingga kita bisa mendapatkan solusinya mendekati 100%. Tertarik? Silahkan survey terlebih dahulu sendiri ya.
Salam Karakter,
Ir. William Wiguna, CPHR., CBA., CPI.
Care Plus Indonesia®
The First Life Time® Program & Counseling
PIN BBM: 2144922D
Twitter @williamwiguna
FB: William Wiguna
HP: 0818-839469, 021-94746539
william.wiguna@gmail.com
william@careplusindonesia.com
www.careplusindonesia.com (NEW, REDESIGNED!)
www.bestcharacters.blogspot.com
Sedikitnya ada 3 faktor utama yang justeru sering diabaikan oleh para pengambil keputusan, pelatih, dan peserta. Kami mengumpulkan cukup banyak data dan silahkan Anda lakukan sendiri uji coba sbb:
1. Retention: Coba tanyakan kepada teman atau relasi kita seberapa ingat ybs mengingat suatu pesan yang untuk mudahnya yang diterima saat mendengarkan suatu ceramah (entah hari Minggu atau Jumat dsb). Seberapa persen masih diingat pesan "penting" tersebut. Kalau perlu ditanyakan kembali pesan yang dia terima 2 minggu lalu. Anda akan kaget bahwa walau sang pembicara "luar biasa" penyampaiannya, dalam kondisi khusuk dan tempat/lingkungan yang tepat begitu rendahnya "retention" seseorang terhadap sebuah pesan. Jangan ditanya seberapa ingat mereka akan pesan dari atasan saat di kantor/tempat kerja. Bila skor yang Anda survey ada diatas 25% maka itu sudah lumayan.
2. Repetition: Beberapa cara dilakukan untuk mencegah "retention" atau lupa nya seseorang akan sebuah pesan, maka dilakukan "repetition". Contoh ringkasnya adalah sbb: seorang anak harus tahu bahwa target akhir tahun yang diharapkan orang tuanya adalah naik kelas. Bayangkan apabila sang anak harus diingatkan terus setiap hari soal "naik kelas" atau contoh bagi seorang karyawan target yang harus dikejar tiap hari. Apa akibat yang muncul? Kemungkinan besar adalah munculnya rasa stress. Apabila tim Anda masih di atas 50% bersedia diingatkan soal target rutin (minimal menerima telpon/menjawab SMS Anda) maka sudah termasuk lumayan. Situasi makin rumit sekarang bukan?
3. Subyektifitas: Hal tesebut diatas diperparah oleh adanya unsur Subyektifitas sang manusia. Sebagai contoh, bagi seorang owner/pemilik perusahaan adalah sangat-sangat-sangat wajar bila mengingatkan soal "Perusahaan harus untung sebesar-besarnya dengan biaya yang serendah-rendahnya" karena ini merupakan teori ekonomi mutlak. Akan tetapi apabila hal tersebut disampaikan pemilik terus menerus dalam sebuah rapat, maka kemungkinan besar sebagian karyawan akan pulang memberi tahu isterinya kira-kira apa ya soal kenaikan gaji tahun ini? Sebaliknya kalau saatnya sang anak pemilik perusahaan bertanya kepadanya untuk minta petunjuk mencari perusahaan untuk magang, sebagian besar akan memberikan jawaban kepada sang anak untuk mencari perusahaan yang "bonafid" atau jelasnya mampu memberikan gaji tertinggi dan karena ini menyangkut sang anak, maka diembeli dengan pesan "jangan kerja terlalu keras nanti sakit". Kelihatannya normal bukan? Akan tetapi hal inilah yang disebut contoh subyektifitas, yaitu pesan kepada karyawan dan kepada anak bisa 180 derajat berbeda. Mungkin ditempat Anda kasusnya berbeda, akan tetapi karyawan bisa melihat pasti ada "anak emas" atau "kambing hitam" dalam suatu organisasi. Apabila Anda survey yakin tidak ada istilah "anak emas" atau "kambing hitam" yang menjadi issue dalam organisasi Anda, maka unsur subyektifitas bukanlah momok dalam organisasi Anda.
Dengan adanya salah satu atau kesemua ketiga hal tersebut di atas, tentunya efektifitas suatu TRAINING atau bahkan Penyampaian suatu PESAN (MISI dan VISI) perusahaan menjadi mubazir.
Apabila Anda sudah mencoba mensurvey dengan cara di atas dan sungguh-sungguh ingin mendapatkan solusi atas ke tiga masalah tersebut berdasarkan dari 20 perusahaan yang sudah proven, maka jangan takut untuk berdiskusi dengan kami untuk bersama kita ambil solusinya sehingga kita bisa mendapatkan solusinya mendekati 100%. Tertarik? Silahkan survey terlebih dahulu sendiri ya.
Salam Karakter,
Ir. William Wiguna, CPHR., CBA., CPI.
Care Plus Indonesia®
The First Life Time® Program & Counseling
PIN BBM: 2144922D
Twitter @williamwiguna
FB: William Wiguna
HP: 0818-839469, 021-94746539
william.wiguna@gmail.com
william@careplusindonesia.com
www.careplusindonesia.com (NEW, REDESIGNED!)
www.bestcharacters.blogspot.com
Selasa, 27 September 2011
Bagaimanakah Manajemen Perilaku membantu mengenali Sikap (Attitude) Positif seseorang?
Bagaimanakah Manajemen Perilaku membantu mengenali Sikap (Attitude) Positif seseorang?
Wibawa: bila Anda mudah berhasil mengambil keputusan pada saat orang lain bimbang.
Bijaksana: bila Anda mudah berhasil mempelajari kesalahan orang lain dan memberikan solusi.
Damai: bila Anda paling mampu terus mendamping orang2 bermasalah untuk tetap tetap tenang.
Karisma: bila Anda paling mampu menyuarakan pendapat orang2 lain dan bersedia melakukannya lebih dahulu.
Yang manakah Anda dikenal oleh teman sendiri secara obyektif?
Coba kita belajar dari film ini ya, sikap isteri yang manakah dari ke empat sikap di atas yang Anda pelajari atau lihat:
http://www.youtube.com/watch?v=tqyaXvUH3fI
Wibawa: bila Anda mudah berhasil mengambil keputusan pada saat orang lain bimbang.
Bijaksana: bila Anda mudah berhasil mempelajari kesalahan orang lain dan memberikan solusi.
Damai: bila Anda paling mampu terus mendamping orang2 bermasalah untuk tetap tetap tenang.
Karisma: bila Anda paling mampu menyuarakan pendapat orang2 lain dan bersedia melakukannya lebih dahulu.
Yang manakah Anda dikenal oleh teman sendiri secara obyektif?
Coba kita belajar dari film ini ya, sikap isteri yang manakah dari ke empat sikap di atas yang Anda pelajari atau lihat:
http://www.youtube.com/watch?v=tqyaXvUH3fI
Bayar Harga vs Pelajaran
Bersyukurlah apabila terjadi suatu kesalahan, baik itu bersumber dari orang lain atau diri sendiri.
Belajar sesuatu memang harus bayar harga, sebenarnya kita sudah lebih dahulu bayar terlalu sering tapi belum mampu mengambil pelajarannya.
Reaksi kita terhadap kesalahan itu yang menunjukkan kepada orang lain kita seorang yang BERUNTUNG atau BELUM BERUNTUNG mendapatkan pelajaran tersebut atas "biaya" yang telah kita keluarkan.
(WW)
Belajar sesuatu memang harus bayar harga, sebenarnya kita sudah lebih dahulu bayar terlalu sering tapi belum mampu mengambil pelajarannya.
Reaksi kita terhadap kesalahan itu yang menunjukkan kepada orang lain kita seorang yang BERUNTUNG atau BELUM BERUNTUNG mendapatkan pelajaran tersebut atas "biaya" yang telah kita keluarkan.
(WW)
Selasa, 20 September 2011
Best Characters: Pa HP saya kecebur di toilet...
Best Characters: Pa HP saya kecebur di toilet...: Begitu kata anak saya di pagi hari. Respon pertama saya adalah langsung bergegas melihat bagaimana posisi HP anak saya. Tentu saja sudah kon...
Minggu, 18 September 2011
Pa HP saya kecebur di toilet...
Begitu kata anak saya di pagi hari. Respon pertama saya adalah langsung bergegas melihat bagaimana posisi HP anak saya. Tentu saja sudah kondisi matot (mati total). Sebenarnya saya tahu berdasar beberapa kali kejadian, HP yang tercebur seharusnya cepat di copot baterainya. Anak saya ternyata belum tahu sehingga setelah tercebur cuma di lap kering lalu dipasang dan itu kejadiannya 24 jam yang lalu.
Kelihatannya ini soal sepele, bagaimana mengimbangi rasa jengkel karena HP mahal rusak dan pelajaran yang harus diberikan kepada anak. Yang jelas setelah bertanya kenapa baru lapor setelah 1 hari, saya mulai mengerti kalau memang saya yang belum sempat ketemu muka dengan anak saya karena kesibukan masing-masing. Memang anak saya belajar minta maaf tetapi saya memberikan pelajaran bahwa walau dia sudah meminta maaf, biaya harus dikeluarkan untuk perbaikan.
Dalam kesempatan ini saya ingin menjelaskan apa itu arti kata: “Memberikan pujian, tantangan, maaf atau nasihat adalah penuh resiko”. Memang itu bisa terjadi kapan saja, dimana saja dan siapa saja. Apalagi terhadap anak sendiri bukan?
Demikianlah saya selalu mencoba merenungi kembali tindakan dan perkataan dari lingkungan saya dan anak saya pada pagi ini. Saya bertanya apakah kita mau menghindari resiko atau mensiasati resiko? Saya menjelaskan dengan cara melihat bahwa resiko itu adalah KUANTITATIF (Besar atau Kecil) dan bukan KUALITATIF (Ada atau Tidak).
Memiliki HP berarti secara otomatis ybs langsung memiliki resiko. Nah, bagaimana kita meminimalisasi resiko itu adalah dibutuhkan skill/pengalaman dan pengetahuan. Menggunakannya untuk tujuan berguna atau tidak dibutuhkan sikap (attitude).
Merawat HP berarti juga memiliki resiko. Sekalipun kita pakai HP dekat air yang walaupun kecil (seperti toilet), maka akan meningkatkan resiko kerusakan. Oleh karena itu diperlukan kewaspadaan yang lebih baik. Apabila sekalipun HP tsb terkena resiko seperti tercebur, marah dan maaf pun tidak akan mengubah kondisi HP. Jadi justeru disinilah sikap seseorang diuji. Sebelum dan sesudah HP rusak, penilaian orang lain sebenarnya beralih kepada sikap kita. Jangan lagi didebat soal biaya.
Semoga pelajaran ini juga membuat saya lebih siap mengambil sikap yang tepat karena itu pun saya sudah MENAMBAH lagi resiko, tetapi kali ini ada anak saya yang menjadi teman saya memahami masalah yang akan datang. Nathanael, papa tetap sayang walaupun biayanya memang sudah, sedang dan akan tidak sedikit...
Kelihatannya ini soal sepele, bagaimana mengimbangi rasa jengkel karena HP mahal rusak dan pelajaran yang harus diberikan kepada anak. Yang jelas setelah bertanya kenapa baru lapor setelah 1 hari, saya mulai mengerti kalau memang saya yang belum sempat ketemu muka dengan anak saya karena kesibukan masing-masing. Memang anak saya belajar minta maaf tetapi saya memberikan pelajaran bahwa walau dia sudah meminta maaf, biaya harus dikeluarkan untuk perbaikan.
Dalam kesempatan ini saya ingin menjelaskan apa itu arti kata: “Memberikan pujian, tantangan, maaf atau nasihat adalah penuh resiko”. Memang itu bisa terjadi kapan saja, dimana saja dan siapa saja. Apalagi terhadap anak sendiri bukan?
Demikianlah saya selalu mencoba merenungi kembali tindakan dan perkataan dari lingkungan saya dan anak saya pada pagi ini. Saya bertanya apakah kita mau menghindari resiko atau mensiasati resiko? Saya menjelaskan dengan cara melihat bahwa resiko itu adalah KUANTITATIF (Besar atau Kecil) dan bukan KUALITATIF (Ada atau Tidak).
Memiliki HP berarti secara otomatis ybs langsung memiliki resiko. Nah, bagaimana kita meminimalisasi resiko itu adalah dibutuhkan skill/pengalaman dan pengetahuan. Menggunakannya untuk tujuan berguna atau tidak dibutuhkan sikap (attitude).
Merawat HP berarti juga memiliki resiko. Sekalipun kita pakai HP dekat air yang walaupun kecil (seperti toilet), maka akan meningkatkan resiko kerusakan. Oleh karena itu diperlukan kewaspadaan yang lebih baik. Apabila sekalipun HP tsb terkena resiko seperti tercebur, marah dan maaf pun tidak akan mengubah kondisi HP. Jadi justeru disinilah sikap seseorang diuji. Sebelum dan sesudah HP rusak, penilaian orang lain sebenarnya beralih kepada sikap kita. Jangan lagi didebat soal biaya.
Semoga pelajaran ini juga membuat saya lebih siap mengambil sikap yang tepat karena itu pun saya sudah MENAMBAH lagi resiko, tetapi kali ini ada anak saya yang menjadi teman saya memahami masalah yang akan datang. Nathanael, papa tetap sayang walaupun biayanya memang sudah, sedang dan akan tidak sedikit...
Senin, 22 Agustus 2011
Semakin Marah Semakin Sayang?
Anak saya yang bungsu berusia 7 tahun sering bertanya dengan nada yang ingin supaya disetujui mutlak bila meminta sesuatu. Contohnya: "Pa, boleh Evan main game sekarang?" dan saya tahu kalau jawaban yang diharapkan adalah "ya!". Karena apabila saya jawab "Tidak" maka dia biasanya langsung pasang muka cemberut dan mulai ber"filsafat". Contohnya, "kok ngga sayang Evan", "Papa kok jawabnya marah sih?" dsb. Padahal siapa sih yang ngga sayang sama anak sendiri, juga masa sih sang anak yang marah malah dibilang Papanya yang marah karena bilang tidak sesuai dengan keinginannya. Wah, serba sulit mengerti juga ya kalau sang anak maunya di setujui terus permintaannya. Padahal kita juga yang ajarin dulu waktu masih kecil untuk mulai belajar meminta.
Sekarang saya kembali merenung, mengapa pasangan kita dan anak-anak kita cenderung lebih sensitif kepada orang yang terdekat. Sempat saya komplain kepada mereka (walau sebenarnya ini cuma kerinduan pribadi) kalau mereka lebih banyak suka-citanya kalau dalam lingkungan teman-temannya. Misalnya, kalau saya salah jalan, rasanya sindiran atau teguran dari isteri dan anak-anak lebih "to the point" deh. Padahal kalau dengan teman2nya saya pernah melihat sendiri mereka bisa mengucapkan sambil bercanda dan tidak mempersalahkan kesalahan seperti itu. Yang jelas ada sih rasa "iri" kalau anak saya menunggu temannya pulang sekolah untuk bermain di depan rumah, bertanya terus kepada saya kapan pulangnya sang teman tsb padahal saya di sebelahnya lho.
Kembali kepada anak saya, setelah saya diam dan tidak merespon atas "kemarahan"-nya, maka beberapa lama kemudian dia mulai mendekati saya lagi dan biasanya kami mulai bercanda kembali. Dan kejutan buat saya adalah dia memeluk saya dan mencium sambil mengatakan "I love you Papa". Setelah saya alami sendiri beberapa kali, maka saya mulai menyadari bahwa sikap terhadap "kemarahan" seseorang adalah dengan DIAM. Demikian pula ketika saya yang mulai marah apabila ada seseorang yang saya tegur tidak juga sadar akan ke-"tidak-suka"-an saya atas salah satu perilakunya, saya mulai memberikan juga waktu dan ruang jeda bagi kami berdua untuk merenungi.
Rasanya saya mulai menyadari kalau kita marah dan marah-marah perbedaannya adalah adanya waktu dan ruang jeda. Bagi marah yang positif, tentunya marah hanya pada saat tertentu dan selesai saat itu juga. Sedangkan marah-marah merupakan kebiasaan yang justeru semakin lama semakin tidak sehat karena intensitasnya bisa semakin liar.
Bagaimana marah itu berakibat jelek? Seperti contoh, ada seorang yang gila memukuli orang-orang di pasar. Kemudian gantian orang-orang di pasar memukuli orang gila tsb. Nah, jadi berapa sekarang orang gila di pasar? Tadinya cuma satu orang gila, sekarang mengapa bisa menjadi banyak?
Bagaimana marah bisa berakibat baik? Kita bisa lihat saat ini lebih banyak orang yang "marah" peduli dengan nasib bangsa kita dengan membaca berita-berita di koran Nasional saat ini. Begitu banyak berita yang menurut saya berimbang dan membuat rakyat menjadi cerdas dan memberikan masukan kepada Pemerintah untuk bisa lebih serius menangani segala penyimpangan. Mengapa saya menyebut hal ini sebagai marah yang berakibat baik? Salah satu alasan adalah dengan lebih transparan-nya media melaporkan tindakan penyelewengan dan korupsi maka semakin hati-hati seseorang berbisnis atau berdinas akhir-akhir ini. Salah satunya adalah seorang teman saya menceritakan bahwa kalau ada petugas pajak yang datang ke perusahaan, sekarang ini bahkan saat diberikan air minum pun sang petugas pajak tsb langsung menolak dengan sopan dengan mengatakan, bahwa dia sedang bertugas sebentar saja dan mengatakan kami sudah minum dan akan segera menyelesaikan tugasnya secepatnya.
Contoh lainnya, ketika kami melewati jalan tol Tgr-Jkt yang sangat mulus (saat tulisan ini dibuat bulan Agustus 2011) dan saya berujar bahwa kualitas jalan tol ini sudah seperti di luar negeri, anak saya menimpali bahwa ini gara-gara Nazarudin yang tertangkap. Isteri saya langsung terbahak bahwa anak-anak saja sudah mengerti kalau efek seseorang yang dipublikasikan karena perbuatan negatifnya maka akan membuat para pebisnis juga akan lebih cermat bekerja bukan? Karena itu dampak dari kemarahan rakyat sudah jelas dan pasti atas segala perilaku korupsi.
Kalau begitu Pemerintah seharusnya berterima-kasih kepada mereka yang marah terhadap penyelewengan karena tidak perlu didebat tetapi ini tanda rakyat masih sayang banget dengan Pemerintah bukan?
Akhir kata, kalau kita di"marah"in oleh orang lain, jangan cepat stress atau frustasi dulu atau balas memarahi dulu, tetapi jangan-jangan ini karena ada orang yang menyayangi kita bukan? Tentu saja bukti sayang bukan berarti harus marah ya.
(William Wiguna)
Sekarang saya kembali merenung, mengapa pasangan kita dan anak-anak kita cenderung lebih sensitif kepada orang yang terdekat. Sempat saya komplain kepada mereka (walau sebenarnya ini cuma kerinduan pribadi) kalau mereka lebih banyak suka-citanya kalau dalam lingkungan teman-temannya. Misalnya, kalau saya salah jalan, rasanya sindiran atau teguran dari isteri dan anak-anak lebih "to the point" deh. Padahal kalau dengan teman2nya saya pernah melihat sendiri mereka bisa mengucapkan sambil bercanda dan tidak mempersalahkan kesalahan seperti itu. Yang jelas ada sih rasa "iri" kalau anak saya menunggu temannya pulang sekolah untuk bermain di depan rumah, bertanya terus kepada saya kapan pulangnya sang teman tsb padahal saya di sebelahnya lho.
Kembali kepada anak saya, setelah saya diam dan tidak merespon atas "kemarahan"-nya, maka beberapa lama kemudian dia mulai mendekati saya lagi dan biasanya kami mulai bercanda kembali. Dan kejutan buat saya adalah dia memeluk saya dan mencium sambil mengatakan "I love you Papa". Setelah saya alami sendiri beberapa kali, maka saya mulai menyadari bahwa sikap terhadap "kemarahan" seseorang adalah dengan DIAM. Demikian pula ketika saya yang mulai marah apabila ada seseorang yang saya tegur tidak juga sadar akan ke-"tidak-suka"-an saya atas salah satu perilakunya, saya mulai memberikan juga waktu dan ruang jeda bagi kami berdua untuk merenungi.
Rasanya saya mulai menyadari kalau kita marah dan marah-marah perbedaannya adalah adanya waktu dan ruang jeda. Bagi marah yang positif, tentunya marah hanya pada saat tertentu dan selesai saat itu juga. Sedangkan marah-marah merupakan kebiasaan yang justeru semakin lama semakin tidak sehat karena intensitasnya bisa semakin liar.
Bagaimana marah itu berakibat jelek? Seperti contoh, ada seorang yang gila memukuli orang-orang di pasar. Kemudian gantian orang-orang di pasar memukuli orang gila tsb. Nah, jadi berapa sekarang orang gila di pasar? Tadinya cuma satu orang gila, sekarang mengapa bisa menjadi banyak?
Bagaimana marah bisa berakibat baik? Kita bisa lihat saat ini lebih banyak orang yang "marah" peduli dengan nasib bangsa kita dengan membaca berita-berita di koran Nasional saat ini. Begitu banyak berita yang menurut saya berimbang dan membuat rakyat menjadi cerdas dan memberikan masukan kepada Pemerintah untuk bisa lebih serius menangani segala penyimpangan. Mengapa saya menyebut hal ini sebagai marah yang berakibat baik? Salah satu alasan adalah dengan lebih transparan-nya media melaporkan tindakan penyelewengan dan korupsi maka semakin hati-hati seseorang berbisnis atau berdinas akhir-akhir ini. Salah satunya adalah seorang teman saya menceritakan bahwa kalau ada petugas pajak yang datang ke perusahaan, sekarang ini bahkan saat diberikan air minum pun sang petugas pajak tsb langsung menolak dengan sopan dengan mengatakan, bahwa dia sedang bertugas sebentar saja dan mengatakan kami sudah minum dan akan segera menyelesaikan tugasnya secepatnya.
Contoh lainnya, ketika kami melewati jalan tol Tgr-Jkt yang sangat mulus (saat tulisan ini dibuat bulan Agustus 2011) dan saya berujar bahwa kualitas jalan tol ini sudah seperti di luar negeri, anak saya menimpali bahwa ini gara-gara Nazarudin yang tertangkap. Isteri saya langsung terbahak bahwa anak-anak saja sudah mengerti kalau efek seseorang yang dipublikasikan karena perbuatan negatifnya maka akan membuat para pebisnis juga akan lebih cermat bekerja bukan? Karena itu dampak dari kemarahan rakyat sudah jelas dan pasti atas segala perilaku korupsi.
Kalau begitu Pemerintah seharusnya berterima-kasih kepada mereka yang marah terhadap penyelewengan karena tidak perlu didebat tetapi ini tanda rakyat masih sayang banget dengan Pemerintah bukan?
Akhir kata, kalau kita di"marah"in oleh orang lain, jangan cepat stress atau frustasi dulu atau balas memarahi dulu, tetapi jangan-jangan ini karena ada orang yang menyayangi kita bukan? Tentu saja bukti sayang bukan berarti harus marah ya.
(William Wiguna)
Senin, 15 Agustus 2011
"Mengapa Seseorang Membeli Mobil Mahal?"
Begitulah pertanyaan anak saya yang ABG saat kami jalan sehat di pagi hari ybl. Pertanyaan tersebut terlintas begitu saja ketika Nathanael melihat sebuah mobil Taksi yang masih baru dan mulus melewati kami. Kemudian dia melanjutkan, "Apakah ngga rugi ya beli mobil mahal2?".
Saya berharap disinilah awal diskusi yang sehat untuk dimulai. Saya mencoba berhitung dengan anak saya untuk membeli sebuah mobil katakanlah seharga Rp. 200 juta, dan kemudian setelah 2 tahun dijual dengan harga Rp. 100 juta, sehingga bisa dikatakan seperti anak saya tadi bahwa pasti rugi, yaitu Rp. 100 juta.
Karena minat anak saya bertambah, maka saya coba bantu hitung secara kasar, bahwa selama 2 tahun merugi Rp.100 juta itu berarti sekitar Rp. 140 rib/hari. Nah, saya katakan bahwa kalau mobil dibeli dan tidak dipakai maka sekitar itulah kerugiannya. Kemudian saya ajak dia berpikir, kalau seorang sopir Taksi menggunakan mobil tersebut dan mendapatkan penghasilan rata2 Rp. 400 ribu/hari, maka dia bisa mendapatkan keuntungan sekitar Rp. 260 ribu/hari, atau sekitar Rp. 180 juta dan bukan rugi Rp. 100 juta dalam 2 tahun tersebut. Sampai disini anak saya langsung kaget dan bertanya "wah berarti tidak rugi dong membeli mobil ya?".
Begitulah akhirnya anak saya mulai menyadari bahwa sebenarnya tubuh dan jiwa kita pun seperti sebuah kendaraan yang diberikan oleh Tuhan untuk kita gunakan. Ada yang menggunakan untuk kegiatan sehingga bisa memberikan hidup bagi orang lain dan ternyata masih ada juga yang hidup tetapi bahkan untuk makan sendiri saja kesulitan. Memang agak susah memahami bahwa saat sekarang ini dengan jumlah waktu yang sama 24 jam dan kondisi fisik yang relatif sama, ternyata output dari seseorang bisa berbeda2, untuk anak seusia Nathanael.
Saat ini anak saya memang masih berumur 13 tahun, tetapi mulai belajar menepati jadwal belajar dan bermain sesuai waktu yang tersedia, tetapi pada pagi itu saya menyadari bahwa dia sedang mendapat kesempatan untuk bisa lebih mengerti bagaimana orang lain menghargai segala suatu pemberian, termasuk pemberian melalui orang tua, pekerjaan dan sebagainya. Kebetulan kami juga pernah mendapatkan kesempatan ketika ada anak kecil yang sedang mengamen di perempatan Cideng, dan kami berikan uang Rp. 10 ribu, dia bisa melihat sendiri bahwa sang anak tersebut mengucapkan terima kasih berkali-kali, dan ini merupakan kesempatan yang langka saat kami bisa menyaksikan sendiri bahwa betapa kita sering lupa berterima-kasih atau kadar bersyukur yang berbeda kalau hidup kita selalu tercukupi dibandingkan saat kita sedang membutuhkan sesuap nasi atau seteguk air minum.
Demikian saya pagi itu saat berjalan sehat dan bersama anak kembali menemukan cara pikir yang sederhana untuk menentukan bagaimana menjelaskan mahal atau tidaknya sesuatu adalah berdasarkan cara kita menghargai dengan sebanyak apa bisa kita berikan manfaat sesuatu bagi orang lain dan bila kita harus mengalami kesusahan supaya kita bisa lebih diingatkan betapa bersyukurnya kita masih bisa hidup.
Orang bijak bilang kalau masih sulit merasa bersyukur, walau sedang menerima cobaan, coba hitung berkat2 yang telah kita terima dari 0 tahun sd sekarang... Saya pernah coba dan hasil hitungannya selesai baru pada keesokan harinya dimana saya selesai bangun dengan segar, seperti halnya pada pagi hari ini. Terima kasih Tuhan atas setiap kesulitan dan berkat yang kami terima...
William Wiguna (45) refleksi bersama Nathanael Wiguna (13)
Saya berharap disinilah awal diskusi yang sehat untuk dimulai. Saya mencoba berhitung dengan anak saya untuk membeli sebuah mobil katakanlah seharga Rp. 200 juta, dan kemudian setelah 2 tahun dijual dengan harga Rp. 100 juta, sehingga bisa dikatakan seperti anak saya tadi bahwa pasti rugi, yaitu Rp. 100 juta.
Karena minat anak saya bertambah, maka saya coba bantu hitung secara kasar, bahwa selama 2 tahun merugi Rp.100 juta itu berarti sekitar Rp. 140 rib/hari. Nah, saya katakan bahwa kalau mobil dibeli dan tidak dipakai maka sekitar itulah kerugiannya. Kemudian saya ajak dia berpikir, kalau seorang sopir Taksi menggunakan mobil tersebut dan mendapatkan penghasilan rata2 Rp. 400 ribu/hari, maka dia bisa mendapatkan keuntungan sekitar Rp. 260 ribu/hari, atau sekitar Rp. 180 juta dan bukan rugi Rp. 100 juta dalam 2 tahun tersebut. Sampai disini anak saya langsung kaget dan bertanya "wah berarti tidak rugi dong membeli mobil ya?".
Begitulah akhirnya anak saya mulai menyadari bahwa sebenarnya tubuh dan jiwa kita pun seperti sebuah kendaraan yang diberikan oleh Tuhan untuk kita gunakan. Ada yang menggunakan untuk kegiatan sehingga bisa memberikan hidup bagi orang lain dan ternyata masih ada juga yang hidup tetapi bahkan untuk makan sendiri saja kesulitan. Memang agak susah memahami bahwa saat sekarang ini dengan jumlah waktu yang sama 24 jam dan kondisi fisik yang relatif sama, ternyata output dari seseorang bisa berbeda2, untuk anak seusia Nathanael.
Saat ini anak saya memang masih berumur 13 tahun, tetapi mulai belajar menepati jadwal belajar dan bermain sesuai waktu yang tersedia, tetapi pada pagi itu saya menyadari bahwa dia sedang mendapat kesempatan untuk bisa lebih mengerti bagaimana orang lain menghargai segala suatu pemberian, termasuk pemberian melalui orang tua, pekerjaan dan sebagainya. Kebetulan kami juga pernah mendapatkan kesempatan ketika ada anak kecil yang sedang mengamen di perempatan Cideng, dan kami berikan uang Rp. 10 ribu, dia bisa melihat sendiri bahwa sang anak tersebut mengucapkan terima kasih berkali-kali, dan ini merupakan kesempatan yang langka saat kami bisa menyaksikan sendiri bahwa betapa kita sering lupa berterima-kasih atau kadar bersyukur yang berbeda kalau hidup kita selalu tercukupi dibandingkan saat kita sedang membutuhkan sesuap nasi atau seteguk air minum.
Demikian saya pagi itu saat berjalan sehat dan bersama anak kembali menemukan cara pikir yang sederhana untuk menentukan bagaimana menjelaskan mahal atau tidaknya sesuatu adalah berdasarkan cara kita menghargai dengan sebanyak apa bisa kita berikan manfaat sesuatu bagi orang lain dan bila kita harus mengalami kesusahan supaya kita bisa lebih diingatkan betapa bersyukurnya kita masih bisa hidup.
Orang bijak bilang kalau masih sulit merasa bersyukur, walau sedang menerima cobaan, coba hitung berkat2 yang telah kita terima dari 0 tahun sd sekarang... Saya pernah coba dan hasil hitungannya selesai baru pada keesokan harinya dimana saya selesai bangun dengan segar, seperti halnya pada pagi hari ini. Terima kasih Tuhan atas setiap kesulitan dan berkat yang kami terima...
William Wiguna (45) refleksi bersama Nathanael Wiguna (13)
Langganan:
Postingan (Atom)

