Total Tayangan Halaman

Entri Populer

Kamis, 19 Desember 2013

Mengenal Teknis dan Non Teknis dalam Keseimbangan Hidup











MENGENAL TEKNIS dan NON-TEKNIS
DALAM KESEIMBANGAN HIDUP
Beberapa pertanyaan atau perdebatan cukup menarik kami dapatkan dalam konseling sbb:
  1. Seorang anak remaja yang saat ini sedang masa kuliah, mempertanyakan mengapa sang ortu yang katanya sudah banyak belajar tentang kepribadian, hipnosis dsb tetap memaksakan kehendaknya kepada dirinya yang sudah seharusnya bisa ambil keputusan. Bahkan bisa lebih ngambek kalau tidak dituruti.
  2. Mereka yang telah mengambil gelar setelah kuliah begitu mahal, ternyata tidak seperti yang diharapkan para ortu, wali dan terutama pimpinan di tempat pekerjaannya. Sebagai contoh apakah karyawan  memiliki gelar Sarjana lebih baik atau menguntungkan perusahaan dari pada karyawan non gelar pada saat ini?
  3. Begitu banyak profesional yang nyasar dalam bidang pekerjaan yang bukan jurusannya, sehingga saat ini bisa dilihat fenomena unjuk rasa akibat mereka stres dan merasa pihak luar perusahaan yang mengajak demo itulah harapan besarnya. Jangan dikira yang mendukung demo itu level buruh lho, banyak yang mendompleng situasi tsb dengan alasan kalau buruh dinaikkan maka otomatis pasti "nyundul".
  4. Perdebatan memilih pemimpin yang mana diinginkan ternyata tidak seperti yang dibutuhkan oleh masyarakat yang memilihnya. Misalnya syarat memilih pemimpin yang baik itu harus lebih kuat soal Teknis (gelar, pengalaman dsb) atau Non Teknis (kejujuran, kewibawaan dsb) mana yang lebih diutamakan.

Untuk bisa menjawab ke empat hal tsb diatas, mari kita berpikir secara logika sbb:
  1. Bagaimana bila kita mencoba mengukur temperatur dengan alat ukur penggaris, atau
  2. mengukur berat badan dengan jam dinding atau
  3. mengukur kecepatan dengan stop watch.
Yang mana dari ketiga pengukuran tadi yang benar?

APA ALAT UKUR SALARY SEORANG PEMULA, PROFESIONAL dan PERUSAHAAN?
  1. Ketika seseorang melamar pekerjaan apakah lazim menggunakan alasan/”UKURAN” kenaikan harga sewa rumah, susu, dsb untuk menentukan SALARY-nya?
  2. Demikian pula apakah rasio Pendapatan dan Pengeluaran terhadap SDM sudah pernah diukur?
  3. Saat seseorang profesional mengajukan alasan/”UKURAN” kenaikan SALARY dengan ukuran kenaikan harga shampoo atau cicilan mobil?
  4. Bagaimana perusahaan secara keseluruhan mengukur masa depan PENDAPATAN SDM dan PERUSAHAAN sendiri


4 Tahap

Secara naluri manusia pasti akan mencari cara untuk mengukur sesuatu yang “penting” (disadari atau tidak) dengan akal budi-nya untuk bisa mengaturnya karena rupanya itulah kepentingannya:
  1. Tahap Mengenal
  2. Tahap Mengukur/Mengatur
  3. Tahap Merencanakan
  4. Tahap Menciptakan

Tahap 1 (mengenal)
Kalau kita lihat setiap orang diberikan waktu 24 jam sama rata oleh Tuhan, akan tetapi mengapa tidak semua orang menyadarinya? Atau mengapa hanya beberapa orang yang bisa menghargainya dengan tepat waktu setiap saat? Disinilah kita bisa melihat mereka yang telah meng "hargai" sebuah karunia Tuhan dengan cara mengukur (dengan alat yang tepat contohnya: sebuah jam).
Tahap 2
(mengukur dan mengatur)
Setelah seseorang senang bisa mengukur waktu dengan jamnya, maka mereka mencoba membuat janji untuk melakukan sesuatu dan saat itulah mereka perlu mengatur waktunya (dengan alat yang namanya AGENDA) untuk bekerja lebih efisien dalam 24 jam. Sebuah pemikiran yang simpel bukan?
Dengan tahap 1 dan 2 saja kita tanpa sadar sudah diajarkan sedari kecil bahwa begitu pentingnya saat belajar di sekolah.  Anda pasti sudah lolos semua melewati masa-masa tsb soal AGENDA sampai dengan kelas di SD.

Tahap 3 (merencanakan)
Mengingat begitu bervariasinya janji dan "to do list" seseorang, maka kita mulai belajar mengenal perencanaan lebih ketat tidak hanya untuk hari ini saja, karena semua persoalan tidak bisa diselesaikan dalam 24 jam, maka sebagian besar kita mulai belajar membuat RENCANA dalam jadwal mingguan atau bulanan bahkan tahunan. Biasanya di sekolah kita semua juga sudah belajar jadwal bulanan atau semesteran sampai dengan di SMP bukan?
Tahap 4 (menciptakan)
Akhirnya kita sampai juga di SMA dimana sudah mulai banyak kita belajar MENCIPTAKAN sesuatu dengan waktu yang tersedia. Beberapa sekolah SMP mengijinkan siswanya ikut dalam lomba2 yang mencipta juga. Disinilah kita bisa melihat mereka yang pintar dan cerdas menggunakan waktunya, biasanya mendapatkan reward yang luar biasa sebagai bekal mereka untuk lulus ke jenjang pendidikan selanjutnya.

CONTOH HASIL 4 TAHAP
  1. Bila kita belajar sekian jam, maka bisa “menciptakan” NILAI sekian.
  2. Bila kita bekerja sekian jam, maka bisa “menciptakan” UPAH sekian

Dengan demikian, kita bisa menambah NILAI atau UPAH kita:
  1. Menambah “JAM BELAJAR/KERJA” atau/dan
  2. Meningkatkan “EFISIENSI/EFEKTIVITAS BELAJAR/KERJA”
Manakah PILIHAN TERBAIK MENURUT ANDA? Tentunya bukan dengan ber-“unjuk rasa” kerja sama dengan pihak luar bukan?

Fakta-fakta yang kita bisa cari di google:
SDM kita terbukti sangat handal dan bahkan semenjak pelajar INDONESIA meraih banyak juara TERATAS di berbagai olimpiade iptek di tingkat dunia
¢  http://www.metrotvnews.com/lifestyle/read/2013/10/01/915/185364/SDM-Indonesia-Terbaik-Keempat-di-Dunia
¢  Metrotvnews.com: Berdasarkan Indeks Dinamika Global 2013 dari Grant Thornton, Indonesia saat ini masuk ke dalam urutan lima besar dunia sebagai negara yang memiliki sumber daya manusia (SDM) terbaik. Hasil survei yang dilakukan Grant Thonton itu dirilis setelah menakar lingkungan pertumbuhan ekonomi dari 60 negara terbaik di dunia dan menempatkan Indonesia di posisi keempat.
Pelajar Indonesia Juara.png
Gbr hasil search google: Pelajar Indonesia Juara

Akan tetapi mengapa setelah berkarir, SDM kita terbukti terkorup dan tertinggal...
¢  http://m.rmol.co/news.php?id=99244
¢  Berdasarkan penilaian World Economic Forum (WEF) pada 2012 tercatat daya saing Indonesia masih rendah dibandingkan dengan perusahaan internasional maupun lingkungan regional Asean. Indonesia berada di peringkat 50 pada  tahun lalu dari 144 negara di bawah Singapura (urutan kedua), Malaysia (urutan 25), Brunei Darussalam (urutan 28), dan Thailand (urutan 38).

Demikian juga data yang diterbitkan oleh United Nations Development Programs (UNDP) tentang Indeks Pencapaian Teknologi dan Indeks Pembangunan Manusia. Indonesia menempati urutan 124 dari 178 negara, selain itu data keadaan perekonomian Indonesia dapat dilihat dari pertumbuhan produk domestik bruto (PDB) 2012 yang tumbuh 6,2%.
Indonesia juara korupsi.png
Gbr hasil search google: Juara Korupsi

Mari kita coba cermati dimana sumber permasalahannya:
¢  Dimulai dari sekolah:
Teknis dan Non Teknis Sekolah_Kuliah.png
Gbr Saat ber-sekolah/kuliah soal Teknis belum tentu diimbangi dari pelatihan Non Teknis

¢  Demikian pula saat berpacaran sd berkeluarga:
Teknis dan Non Teknis Berpacaran_Berkeluarga.png
Gbr Saat ber-pacaran dan ber-keluarga soal Teknis belum tentu diimbangi dari kemampuan Non Teknis

¢  Juga saat bekerja atau berbisnis:
Teknis dan Non Teknis Berbisnis.png
Gbr Saat ber-karir soal Teknis belum tentu diimbangi dari kemampuan Non Teknis

¢  Di sekolah ataupun di tempat kerja kemampuan TEKNIS seseorang bisa secara otomatis didapatkan dan langsung bisa dilihat RAPOR-nya. Akan tetapi inilah persoalannya, Rapor NON TEKNIS tidak pernah dikeluarkan atau dikenali, tetapi justeru hanya menjadi bahan rapat atau curhat antar pimpinan atau teamwork. Tanpa disadari inilah yang terjadi kekecewaan yang muncul dan itulah ke empat perdebatan yang terjadi di awal tulisan ini.
Sekarang sudah semakin jelas mana yang gampang diajarkan secara TEKNIS dan mana yang tentunya juga bisa diajarkan secara NON TEKNIS, terlebih kita bisa melihat sebenarnya yang lebih diutamakan dalam sebuah profesionalitas IDEAL adalah GABUNGAN KEDUANYA bukan? (coba dibaca kata2 satu baris dengan kata sambung DAN, sungguh luar biasa bukan?
Teknis dan Non Teknis Berbisnis IDEAL.png
Gbr Kombinasi SANGAT IDEAL Teknis dan Non Teknis sebagai PASSION OF TEAMWORK

Kita sekarang mencoba melihat dari sisi bahwa setiap SDM ibarat sebuah wadah, memiliki kapasitas yang bisa terus berkembang untuk menampung “berkat” yang dicurahkan oleh YME. Sama seperti hujan yang diberikan YME diberikan merata kepada setiap orang, dan mereka yang bisa menampungnya maka ybs akan bisa menerima, menikmati berkat- berkat tersebut dan tidak terbuang. Dimana pertumbuhan dinding2 kapasitas SDM tsb sangat bergantung dengan sisi vertikal (NON TEKNIS) dan sisi horisontal (TEKNIS):

¢  Bila sisi TEKNIS dan NON TEKNIS yang berkembang seimbang maka bisa, kapasitas SDM akan meningkatkan meningkat dan sekaligus meningkatkan daya tampung berkat yang tersedia:
 Bertumbuhnya Wadah SDM Teknis dan Non Teknis.png

Gbr: Wadah kapasitas SDM bila sisi TEKNIS dan NON TEKNIS yang berkembang seimbang
Bekal pelatihan SDM yang tidak seimbang antara TEKNIS dan NON TEKNIS akan menyebabkan SDM sangat mudah menjadi stres, seperti yang kita lihat/dengan berita-berita saat ini:
  1. http://www.beritametro.co.id/peristiwa/ingatkan-pejabat-tak-nyalakan-ponsel-dalam-pesawat-febriani-malah-dipukul
  2. http://www.bartytheme.com/mp3/kenapa-sosiolog-ui-thamrin-tomagola-disiram-air-oleh-munarman-jubir-fpi.html
  3. Dan masih banyak lagi...

Sudah di Tahap Berapakah Anda?
¢  Sekarang, sudah di tahap berapakah Anda? Sudahkah kita mengerti mengapa anak2 sekolah masih bisa menjawab 2 tahun lagi akan menjadi apa sementara mereka yang lebih dewasa malah tambah bingung?
¢  Dan sekarang sudahkah kita pahami mengapa masih terjadi “salah asuhan” dalam membina SDM baik dalam keluarga, sekolah maupun di tempat kerja?


MENGAPA FAKTOR NON-TEKNIS (attitude) BEGITU SULIT DIKENDALIKAN?
  1. Adanya kebiasaan pola pikir yang keliru: apa yang didoakan secara verbal dan non verbal (tertulis) contoh: FB dan NYANYIAN TRADISI
Minta Kerja.png
  1. Kurangnya kesadaran PELATIHAN dan CARA yang tepat sedari AWAL (masa probation)
  2. ASUMSI fatal: TEKNIS menghasilkan NON-TEKNIS secara otomatis
Semoga dengan informasi ini kita semua bertambah peduli tentang pelatihan TEKNIS dan NON TEKNIS yang seimbang. Btw, Pelatihan NON TEKNIS sama sekali bukan pelatihan SOFT SKILL. 

Ir. William Wiguna, CPHR., CBA., CPI.
HP/WA: 0818-839469
Twitter: @williamwiguna
www.facebook.com/groups/careplusindonesia/

Minggu, 23 Desember 2012

Refleksi Akhir 2012: Kebiasaan Menghitung Masalah atau Prestasi?

Refleksi Akhir 2012: Kebiasaan Menghitung Masalah atau Prestasi?

Pernahkan Anda menghitung waktu sendiri dan bersama orang lain saat merenung atau berdiskusi: soal apakah yang paling banyak diperbincangkan?

Dalam film "Source Code", ada gambaran singkat bila seseorang mampu mengulang 8 menit kejadian sebelum otak seseorang mati total maka ada 6 skenario yang dipertunjukkan di dalam film tsb. Apakah kita masih punya kesempatan seperti dalam film "Source Code" tsb? Tentu aja tidak. Karena film tsb seolah menjelaskan bahwa dari sekian banyak skenario manusia kadang terlampau lambat atau selalu salah memutuskan skenario mana yang seharusnya dipilih saat bertindak/diskusi: soal nasib, soal masa lalu, soal orang lain, soal pribadi, kesulitan atau kemudahan.

Sebenarnya hampir sama seperti skenario di "Source Code", dalam kehidupan nyata, selama 24 jam kita di"biasa"kan dengan tindakan-tindakan berulang dan hal ini menunjukkan bahwa manusia adalah "makhluk kebiasaan", yaitu mencoba hidup lebih baik dengan kebiasaan-kebiasaan.

Salah satu adegan dalam film "Life of Pi", seekor harimau bisa di"biasa"kan hidup selama 6-7 bulan untuk berdamai dengan seorang Pi di tengah-tengah lautan yaitu menunggu dan memakan ikan yang harus di"biasa"kan dicari oleh Pi, karena kalau tidak Pi yang akan disantap harimau. Akhirnya Pi menyadari tanpa harimau yang harus dikasih makan sekaligus menjadi "teman kerja" yang mampu membuat Pi bertahan hidup selama 7 bulan!

Bagaimana kita menyadari kehidupan dengan tindakan berulang-ulang itulah isi pesan dari kedua film yang sangat menarik bisa kita terapkan dalam hidup. Percayalah akhir tahun 2012 ini akan memulai awal tahun 2013 berulang-ulang, akan tetapi apakah sudah kita memilih skenario yang benar?

Setiap kali ada waktu bersama pasangan, keluarga, teman main atau teman kerja dsb, apakah skenario:
1. "Cari masalah" yaitu adu/membandingkan besar masalah sendiri dengan orang lain?
2. "Soal nasib" yaitu mencoba melihat nasib sendiri dengan melihat nasib orang lain?
3. "Soal kesialan" yaitu merasa sial menikah/bertemu/berteman dengan seseorang atau keluarga besar-nya?
4. "Soal kesempatan" yaitu menghitung waktunya untung rugi bila kita sudah tahu hukum kebiasaan.

Saya menyarankan ambil skenario 4: lupakan soal perasaan gengsi atau apapun batasan bila kita mau memulai untung-ruginya soal kebiasaan. Sama seperti hukum gravitasi: tidak pandang soal apapun, selama sesuatu di bumi memiliki massa/berat pasti patuh yaitu jatuh kebawah. Demikianlah soal kebiasaan kita berdampak.

Stop merasa korban atau menciptakan korban-korban baru dengan harapan orang-orang bisa mengerti betapa sakit hati Anda, tetapi tetaplah belajar menghitung ulang (selama masih ada waktu dan kita masih sehat) apa untungnya kebiasaan-kebiasaan perilaku Anda. Praktekkanlah dan lihatlah "mukjijat-mukjijat" yang masih bisa Tuhan ijinkan kita lihat di penghujung tahun 2012 ini. Salah satu mukjijat yang penulis dapatkan adalah semakin kita menghitung untung sesuatu perilaku akan semakin yakin untuk melakukan perilaku menguntungkan selanjutnya.

Jadi ngga cukup kan cuma bilang "I am sorry", "Please" dan "thank you" tetapi yang lebih penting masih bisakah kita menghitung tindakan perilaku positif Anda dan orang lain?
inserted at 2012-12-17 10:00:00   |  (Ir. William Wiguna, CPHR., CBA., CPI.)

Testimoni Manager HRD Buccheri Group tentang Program Passion of Teamwork (BKPI Program)

Pengalaman mengikuti Program BKPI di BUCCHERI Group

·    Program BKPI di Buccheri Group telah diawali dengan Seminar PREVIEW tanggal 04 Mei 2012 selama satu jam dan Kick Off Training tanggal 19 Mei 2012 selama empat jam. Setelah itu dilanjutkan COACHING yang disampaikan oleh Bapak William Wiguna dan Tim Care Plus Indonesia secara simultan selama 2-3 jam, dengan Siklus/Target Pelatihan (6 bulan pertama) setiap hari Selasa di Kantor Pusat PT. Buccheri Indonesia, dengan Agenda Coaching sebagai berikut :

1.      Mengambil Data, Mengukur Tingkat Kepercayaan dan Membuat Passport Pribadi
2.      Latihan dan Konseling Problem
3.      Latihan Scoring Pribadi/TEAMWORK
4.      Memulai Passport Pribadi dan Handling Objection
5.      Memulai Menambah BKPI ("jurus")
6.      Scoring Final UJI COBA PERTAMA

 Selain itu diadakan dua kali WORKSHOP pada bulan Juli dan Oktober 2012. Buku LIFE TIME yang ditulis dan diterbitkan sebagai pilihan bagi peserta coaching untuk menambah wawasan mereka.
Program rekap rapor sudah dimulai sejak siklus 4 dan siklus 5, semua sudah bisa mendapatkan nilai maksimal yaitu 100% sehingga bisa dilanjutkan dengan jurus EFISIENSI dan EFEKTIVITAS di siklus 6.
Ada 44 peserta yang mengikuti workshop kedua pada tanggal 30 Oktober 2012 dan semuanya memberikan feedback sebagai berikut :

o   (95%) 42 peserta menyatakan bisa menerima informasi lengkap dengan BAIK
o   (97%) 43 peserta menyatakan perlengkapan disiapkan dengan BAIK
o   (95%) 42 peserta menyatakan program BKPI bisa MENYELESAIKAN MASALAH
o   (100%) 44 peserta menyatakan program BKPI bisa MENDUKUNG KERJA dan KARIR
o   (95%) 42 peserta menyatakan MAU MELANJUTKAN PROGRAM BKPI

Sampai berakhirnya program BKPI pada tanggal 29 Nopember 2012, sebanyak 48 peserta mengikuti program ini yang secara tetap. Ada 8 peserta yang hanya dapat mengikuti coaching sampai dengan siklus 4 atau 5, tidak dapat mengikuti program hingga tuntas  di siklus 6 yaitu menambah jurus terkait efisiensi → hemat dan efektivitas → target, disebabkan sedang cuti melahirkan atau tugas ke luar kota.
·        Dari hasil SUMMARY RAPORT terlihat pada umumnya score karyawan telah mencapai 80-100% dan sebanyak 48 orang (sampai dengan tanggal 20 Nopember 2012 telah menambah jurus kerjanya).
·      Pada awalnya kami dari tim HRD sangat sulit menggerakkan teman-teman untuk mau memberikan LL 100% (Laporan Lengkap 100%) kepada atasan dan IL 100% (Informasi Lengkap 100%) kepada sesama teman kerja atau bawahannya.

·         Pekerjaan ini awalnya sangat membosankan karena rutin dan dilakukan setiap hari, namun seperti tergambar dalam film Karate Kid, tak terasa kami jadi terasah dan terbiasa dan rasanya kami bisa tambah jurus kerja dengan bekerja lebih lagi dari yang biasa kami lakukan sehari-hari.
·         Tanpa sadar prilaku melapor dan memberikan informasi ini terbiasa kami lakukan.

·         Tetapi yang terpenting adalah sebagian besar (80%) karyawan telah menunjukkan prilaku yang meningkat dengan membuat LL dan IL. Tak terkecuali Direktur juga mengisi BUKU PASSPORT-nya dengan lengkap dan dibuktikan dengan SCORE RAPORT yang baik (100%).

·         Saya kira kami makin sadar bahwa kami dapat menghargai hasil kerja dengan metode BKPI ini sehingga atasan dan orang lain bisa menilai hasil dan prestasi kerja yang selama ini kami tak sadar akan kelebihan yang kami miliki masing-masing.

·         Kami sangat berterima kasih kepada Pimpinan dan Manajemen Buccheri yang telah memberikan dukungan yang optimal kepada kami untuk belajar melalui Program BKPI dari Care Plus Indonesia.
·         Oleh sebab itu kami mendukung agar program ini dapat dilanjutkan di Buccheri Group untuk tahapan berikutnya.

Terima kasih.

Jakarta, 29 Nopember 2012                                                    
Dibuat oleh                                                      Mengetahui,



(Natalie Sofia Lie)                                           (Io Rudianto)
Mgr. HRD                                                        Direktur PT. BUCCHERI INDONESIA

Aku Adalah Kebiasaan

Aku adalah kebiasaan ~ Brian Tracy

Siapakah aku?
Aku adalah teman tetapmu
Aku adalah penolongmu yg terbesar
Atau bebanmu yg terberat. Aku akan
mendorongmu maju atau menyeretmu
menuju kegagalan. Aku sepenuhnya
tunduk kepada perintahmu. Sebagian
hal yg kulakukan mungkin sebaiknya
kamu serahkan saja kepadaku, maka
aku akan dapat melakukannya
dengan cepat dan tepat.

Aku mudah diatur – kamu tinggal
tegas terhadapku. Tunjukkanlah kepadaku,
bagaimana persisnya kamu ingin sesuatu
itu dilaksanakan dan setelah beberapa kali belajar aku akan melakukannya
dengan otomatis. Aku adalah hamba dari
semua insan besar, dan sayangnya,juga
hamba dari semua pecundang. Mereka yg besar, telah kujadikan besar.
Mereka yg gagal, telah
kujadikan pecundang.

Aku bukan mesin, walaupun aku bekerja dengan ketepatan seperti mesin
ditambah intelijensi manusia. Kamu bisa
menjalankan aku demi keuntungan atau demi kehancuran – tak ada
bedanya bagiku.

Ambillah aku, latihlah aku, tegaslah
terhadapku, maka aku akan meletakkan
dunia di kakimu. Kendorlah terhadapku
maka aku akan menghancurkanmu.

Siapakah Aku?

AKU ADALAH KEBIASAAN

Jumat, 25 Mei 2012

Apa kata 80 Pakar/Profesional/Siswa yang telah membaca Buku LIFETIME?

klik: http://www.careplusindonesia.com/ Buku pertama dan satu-satunya yang memberikan sekaligus: 1. Garansi Uang Kembali, dan 2. Free TEST Valid DISC/Profil Karakter (bukan BAJAKAN), dan 3. Free PARSEL BUKU untuk Kolega, dan 4. Free AUDIO CD Lifetime Dapatkan HARGA KHUSUS PRELAUNCHING: Pemesanan BUKU sudah bisa dilakukan sekarang dengan harga KHUSUS yaitu Rp. 60.000/buku sudah termasuk ONGKOS KIRIM KE SELURUH INDONESIA. Harga normal (termasuk ONGKOS KIRIM Rp. 75.000). Hubungi via SMS: 0818-839469 (setelah transfer ke AC: 277-111-0691 AN: William Wiguna) format: NAMA_ALAMAT LENGKAP_JUMLAH PESANAN_TGL TRANSFER BCA Pembelian di atas 10 buku DISKON 15% @ menjadi Rp. 51.000 (tmsk ONGKIR SELURUH INDONESIA)

Selasa, 29 November 2011

Worthed or Worried?

Worthed or Worried?

Saat saya selesai deal dengan menawarkan gadget bekas saya ke pembeli sd 50% dari harga pasar, anak saya dengan kritis bertanya “Papa jual barang kok murah amat? Mending ngga usah beli kalau tahu jual barang rugi seperti itu Pa?”

Pertanyaan yang langsung kena seperti ini ternyata membuat saya harus berpikir 2 kali untuk bisa menjelaskannya. Mengapa? Karena saat ini begitu cepatnya teknologi sehingga perlengkapan gadget elektronik saya begitu cepat terasa kuno, walaupun saya sebenarnya termasuk jarang untuk mengganti gadget seperti Notebook, Smart HP, HP, Digital Camera dan GPS.

Saya mencoba menjelaskannya dari sisi pola pikir seorang anak yang mulai dewasa. Saya menerangkan bahwa untuk membeli sesuatu, dipastikan harus ada seseorang yang mampu menghitung seberapa keuntungan yang bisa kita peroleh. Dan itu tidak berarti selalu bernilai langsung ke uang. Sebagai contoh, saya bertanya kepada anak saya yang saat ini berusia 13 tahun, “Nate, kamu sudah berapa banyak Mama belikan mainan Hot Wheels”, karena hobi dia dari kecil adalah selalu meminta beli mobil Hot Wheels. “banyak sekali Pa” jawabnya. Kemudian saya sampaikan betapa orang tua sangat mengasihi anak sehingga mainan-mainan bisa menjadi bukti paling nyata untuk anaknya mulai mengerti apa pemberian orang tuanya. Kalau sudah cukup banyak, maka sang anak rupanya sudah tidak sempat lagi memainkannya dan kelihatannya Nate baru sadar kalau begitu banyak mainan yang sudah tidak dipakai lagi atau jarang dia mainkan lagi. “Apakah Papa dan Mama merasa rugi membelikan mainan yang saat ini banyak tersimpan di beberapa tempat rumah dan tidak lagi dipakai, bahkan sangat mungkin tidak laku kalau dijual satu per satu”. “Sekarang pun sebenarnya masih terus berlangsung para orang tua membelikan anak-anaknya kebutuhan “main” yang berupa percobaan robot, praktek elektronik dsb dari sekolah atau teman-temannya”.

Anak saya rasanya mulai mengerti dan mengangguk kalau sebenarnya ada nilai keuntungan yang belum pernah terpikirkan bahwa kami para orang tua berani memberikan semua jenis “tools” termasuk perlengkapan kerja atau mainan agar sang anak semakin berkembang otaknya dan sekaligus mengembangkan karakter utamanya menjadi sikap yang positif terhadap pemberian dan pemeliharaan barang-barang yang telah diberikan.

Sangat menarik, karena saya sendiri dulu hanya bersikap otomatis kalau sang anak meminta mainan, kami sebagai orang tua hanya merasakan sebagian besar adalah kewajiban. Akan tetapi dalam setiap kelas dari tahun 2005 yang kami ajarkan soal Karakter dan Sikap, maka betapa mengejutkan bahwa permainan pengenalan akan bentuk tidak lagi diajarkan atau dilanjutkan di sekolah-sekolah mulai dari SD dst. Sebagai contoh, Anda silahkan tanya kepada karyawan Anda pertanyaan sbb:

“Kalau besok ada tamu dari 5 negara yang berbeda-beda, dan kamu ditugaskan untuk meminta mereka duduk, apa yang kamu perlu belajar? Hampir selalu sang karyawan akan menjawab mereka butuh belajar BAHASA dan WAKTU yang lumayan lama.... Padahal besok kebutuhan kita.
Menurut Anda apa yang seharusnya mereka berikan?”

Kalau Anda juga kesulitan membantu sang karyawan, maka mungkin kita perlu bekerja sama untuk melanjutkan permainan bentuk yang sebenarnya sudah ditanamkan saat kita TK atau Taman Bermain. Ini bukan bercanda atau menghina bagi Anda yang sudah kuliah sd S3 lho.

Kami bahkan menyediakan sd 5 role play seperti itu yang ternyata langsung bisa membuat para karyawan atau team menyadari betapa pentingnya membaca atau mengenal bentuk sesuatu dan seseorang.

Kembali kepada Nate yang sekarang kembali bertanya, “...berarti saat Papa menjual gadget sebenarnya bukan karena harga yang murah dong ya, tetapi manfaat yang telah Papa ambil sudah jauh lebih besar dari pada nilai awal kita beli dan sekarang pun kalau dijual, maka itu sebagai bonus dan karena harganya murah kita bisa mengajarkan kepada mereka yang mau belajar gadget dengan biaya lebih murah.”

Semoga refleksi singkat ini bisa membuat kita lebih mengerti mengambil manfaat dari setiap benda dan waktu yang telah diberikan kepada kita. Btw, satu pertanyaan lagi muncul, menurut Anda kalau kita percaya Tuhan YME yang menciptakan diri kita, apakah juga telah mendapatkan keuntungan dengan masih hidupnya diri kita di dunia/lingkungan kita saat ini ya?

Salam Karakter,
Ir. William Wiguna, CPHR., CBA., CPI.
Care Plus Indonesia®
The First Life Time® Program & Counseling

PIN BBM: 2144922D
Twitter @williamwiguna
FB: William Wiguna
HP: 0818-839469, 021-94746539
william.wiguna@gmail.com
william@careplusindonesia.com

www.careplusindonesia.com (NEW, REDESIGNED!)
www.bestcharacters.blogspot.com

Senin, 21 November 2011

Meng"harga"i Kelemahan

Meng”harga”i Kelemahan

Sangat sulit bahkan tersembunyi buat kita yang menterjemahkan secara teori apa itu "menghargai kelemahan". Bahkan kita cenderung menghindari dan sangat jengkel bila seseorang mengungkit2 kelemahan diri kita. Sebaliknya kalau kita membicarakan kelemahan orang lain atau bisa juga meng-gosip-kan orang lain betapa kita cenderung mau tahu dan rasanya kita jadi tampak "lebih suci" dari orang tersebut.

Mengapa kita memiliki kecenderungan seperti ini?
Mungkin dengan sebuah cerita bisa kita lebih mengerti kondisi tersebut:
Di dalam sebuah pesta, ada sekelompok Ibu2 sedang ber-gosip ria, dan tepat ketika itu ada seorang Ibu lain yang melewati kelompok ini. Seorang Ibu katakanlah si Polan, yang sedang asyik berbicara langsung melongo dan berkomentar tentang Ibu yang baru lewat tsb, “tuh, lihat sombong sekali wanita itu. Mentang2 kaya pakai anting berlian sebesar itu? Mau pamer sama siapa sih? Dasar sombong sekali ya tuh?”. Dan teman-temannya seperti dikomando langsung bersetuju-ria dan lanjut mendiskusikan serta bergosip ke”sombong”an sang Ibu ber-anting berlian yang sudah jauh melewati mereka.

Sekarang, menurut Anda siapakah sang Ibu yang sombong sebenarnya? Sangat mudah sekali bukan melihat bahwa dia yang melontarkan justeru dialah yang menunjukkan dirinya sebagai seorang yang sombong. Sebagaimana kita mengukur orang lain demikianlah diri kita diukur.

Mungkin Anda akan segera berkilah, “wah kalau aku yang disitu sih ngga bakalan terpancing dan akan cuekin tuh si Polan atau sang Ibu ber-anting berlian” atau “saya pasti akan tegur si Polan” serta mungkin “ngapain sih ngomongin orang lain...”. Mungkin juga Anda sesudah membaca cerita tadi dan langsung bisa melihat situasi dengan obyektif. Akan tetapi saat Anda yang di situasi yang mungkin mirip seperti itu ketika berdiskusi soal pimpinan yang hobi menyanyi di mana2, anggota DPR yang berani pamer mobil bernilai milyar-an, soal kekayaan pejabat dsb, apakah Anda bisa merasa lebih obyektif seperti merespon cerita si Polan tadi? Atau ikutan menjadi hakim atau cuma mem”bumbu”i-nya?

Amat sangat baik bila kita sendiri sebenarnya bisa melakukan hal yang sama ketika melihat kelemahan orang lain, sebenarnya itulah cermin kelemahan yang ada pada diri kita sendiri. Konyolnya, kita sendiri yang melakukan pengakuan di depan orang terdekat dengan diri kita karena merasa semakin leluasa. Sebagai ilustrasi adalah sbb: ada seorang suami yang disindir terus tiap hari oleh sang isteri bahwa tiap pagi sang istri tetangga selalu dicium mesra oleh suaminya sebelum berangkat kerja. Tanpa sadar sang suami langsung menjawab, “... saya juga mau banget cium si isteri tetangga tsb tiap hari tapi takut dia ngga mau...” Apa kira-kira reaksi sang isteri setelah tahu apa yang ada di pikiran sang suami?

Terlalu banyak teori atau “gajah depan mata tidak kelihatan, semut di seberang lautan terlihat” atau “balok depan mata tidak tampak, debu di mata orang tampak”, yang terjadi dan bisa kita menertawakan diri sendiri. Saya sendiri masih berjuang contohnya, sering bisa ingatkan anak saya untuk selalu disiplin kalau sedang main game, tetapi kalau sedang asyik main game sama saja rupanya. Karena baik isteri maupun anak juga ribut kalau saya lagi asyik dan diajak bicara tidak pernah bisa konsentrasi.

Dengan tiga ilustrasi di atas kita sudah bisa melihat apa yang disebut kelemahan bukan? Kelemahan itu tidak akan pernah disadari oleh ybs walaupun dikasih tahu oleh orang yang terdekat dengan diri kita. Mungkin juga dengan diri kita sendiri lho! yaitu bila kita sendiri tidak bisa menerima atau tidak bisa ikhlas (http://www.youtube.com/watch?v=uhrZN3mHeww). Cara kita membela diri bahkan dilengkapi dengan kambing hitam, adalah cara kuno kita untuk meng-“harga”i kelemahan diri kita yang tentu saja sangat tidak tepat bukan? Lebih tepatnya kita bisa ber”cermin” bukan dengan orang lain tetapi ber”cermin”-lah dengan diri kita (http://www.youtube.com/watch?v=ql_FdvD5nNs&feature=related).

Menghargai kelemahan dengan lebih baik bisa dimulai juga dengan menonton film ini (http://www.youtube.com/watch?edit=vd&v=NgmnE-nBpjk) yaitu cerita tentang kesaksian seorang isteri yang memberikan kata-kata kenangan terakhir saat pemakaman sang suami. Kelemahan sang suami seperti suka ngorok dan kentut saat tidur dulunya sangat mengganggu, tetapi sang isteri bisa cepat memahami kalau justeru saat sang suami saat sakit keras, bahwa ngorok dan kentut adalah tanda sang suami masih bertahan hidup. Demikianlah saat sungguh-sungguh sang suami sudah tiada, sang isteri bisa testimoni bahwa (maaf) ngorok dan kentut adalah “beautifully imperfection that make perfect”.

Sekarang kembali kepada kita, bagaimana kita bisa mengenali dan men”siasati” kelemahan tersebut? Memang perlu waktu dan teman seumur hidup untuk seutuhnya kita “tahu diri” dan akhirnya bisa bilang, Terima Kasih Tuhan karena telah Engkau ijinkan untuk memakai pasangan, keluarga dan teman-teman membuat saya semakin wangi di dalam perjalanan kembali kepada YME...

Perlu teman untuk berdiskusi seumur-hidup soal “kelemahan” (IMPERFECTION) yang bisa menjadi KEKUATAN KITA (PERFECTION in OUR LIFE)? Join atau hubungi kami di www.careplusindonesia.com atau di FB GROUP: https://www.facebook.com/groups/careplusindonesia/

Salam Karakter,
Ir. William Wiguna, CPHR., CBA., CPI.
Care Plus Indonesia®
The First Life Time® Program & Counseling

PIN BBM: 2144922D
Twitter @williamwiguna
FB: William Wiguna
HP: 0818-839469, 021-94746539
william.wiguna@gmail.com
william@careplusindonesia.com

www.careplusindonesia.com (NEW, REDESIGNED!)
www.bestcharacters.blogspot.com