Total Tayangan Halaman

Entri Populer

Rabu, 17 November 2010

Power of Differences



Tujuan Pelatihan ini adalah sbb:

1. Memperkenalkan atasan, karyawan lama dan karyawan baru agar lebih saling kenal dan tidak ada perasaan negative/salah paham satu sama lain dan lebih mudah dalam bekerja sama.
2. Mengoptimalkan diri sebagai pengusaha dan karyawan dengan membuka pikiran sebesar-besarnya mengenai dunia kerja.
3. Menjelaskan mengenai kekuatan dari perbedaan karakter karyawan terhadap kerja sama di perusahaan sehingga karyawan lama dan baru dimotivasi untuk saling terbuka satu sama lain untuk bekerja sama.

2. Resume Training
Power of Difference dapat diartikan sebagai kekuatan dari perbedaan. Setiap orang memiliki kelebihan dan kekurangannya masing-masing. Perbedaan ini dapat menjadi kekuatan atau kelemahan, tergantung cara pandang dan cara meresponinya. Setiap orang dapat memberikan respon bervariasi mengenai perbedaan itu. Contoh: ada pernyataan “makan untuk hidup” atau “hidup untuk makan”. Ada yang menyetujui “makan untuk hidup” karena hidup dipandang lebih dari sakadar makan saja; atau makna hidup tidak terbatas pada makan saja.

2.1 Problem
Problem dapat diartikan sebagai “ujian”. Lima macam problem yang mungkin terjadi di dalam dunia kerja, yaitu salah paham, salah persepsi, kambing hitam (scape goat), kecerobohan, dan kecelakaan (accident). Lima macam problem ini sering terjadi di dalam dunia kerja dan karyawan perlu memahami penyebab terjadinya dan solusinya.

A. Salah Paham
Salah paham dapat terjadi antara atasan dengan karyawan dan antara sesama karyawan. Salah paham itu biasanya terjadi diantara orang yang saling kenal dekat. Contoh mengenai salah paham:
• Pengusaha: ingin untung sebesar-besarnya dengan pengeluaran sekecil-kecilnya. Hal ini berarti perusahaan ingin untung besar, tetapi kurang/tidak memperhatikan kesejahteraan karyawan. Karyawan: ingin kerja santai dengan gaji besar. . Hal ini berarti karyawan ingin gaji besar tetapi tidak memberi produktivitas kerja yang besar kepada perusahaan. Kalau kedua paham ini diadu, maka bertolak belakang, terjadi salah paham dan memicu konflik antara perusahaan dengan karyawan.
Salah paham terjadi karena salah baca situasi. Karakter yang baik, ternyata belum tentu bisa membaca situasi. Niat yang baik, tetapi belum tentu memberikan hasil yang baik. Atasan dan karyawan harus memiliki kesatuan visi dan misi, saling percaya dan saling bekerja sama agar mencegah/mengatasi terjadinya salah paham dan agar berkembang bersama-sama. Perusahaan menjadi fasilitator, dan karyawan sebagai “investor” dalam bekerja. Visi yang besar bila tidak ditunjang oleh sikap atasan dan sikap karyawan yang benar, maka dapat membahayakan perusahaan. Oleh sebab itu, salah paham harus diselesaikan melalui komunikasi yang terbuka, serta harus berani berbicara yang benar di saat yang tepat.

B. Salah Persepsi
Salah persepsi dapat terjadi karena karyawan biasanya dipersalahkan sehingga menjadi sungkan untuk berpendapat. Penyebab lain adalah adanya pandangan Boss always right; if boss is wrong, but he is still right sehingga karyawan cenderung bersikap tutup mulut saat ada kesalahan dan tidak mau ambil risiko dimarahi kalau berbicara.
Ada beberapa persepsi karyawan yang mungkin muncul dalam bekerja:
• Pamer atau mau bekerja dengan benar (keluar sebagai pemenang); ada karyawan yang perlu diperintah dulu sebelum bekerja, Karyawan yang hanya mau pamer itu akhirnya malah overacting dan kalah.
• Ada juga karyawan yang memberi inspirasi dan sudah tahu sendiri apa yang harus dikerjakan. Tidak cukup hanya menyenangkan atasan, tetapi kemampuan karyawan harus bertambah dan berkembang dalam bekerja seiring dengan bertambahnya masa kerja.
Karyawan memberi input ke atasan dan atasan memberi input ke bawahan agar dapat saling introspeksi diri, kerja sama dan memajukan Perusahaan. Namun, memberi input itu harus pada tempatnya, dan jangan salah memberi input agar tidak fatal akibatnya. Tidak boleh ada perasaan rendah diri, atau merasa yang lain lebih penting dari yang lain. Kalau perusahaan suatu saat bertambah besar, maka perusahaan harus memberi kesempatan untuk berkembang, menerima karyawan baru. Perusahaan pun merasa terhormat karena melakukan ekspansi untuk menerima karyawan baru. Karyawan baru dan karyawan laam itu tetep bekerja sama untuk kemajuan perusahaan. Karyawan harus punya persepsi kerja yang benar, yaitu dengan bekerja maksimal, maka bukan hanya perusahaan yang untung, melainkan juga karyawan dan konsumen ikut puas.

C. Kambing Hitam (Scape Goat)
Kambing hitam adalah sesuatu yang dipersalahkan sebagai ganti kesalahan sendiri. Dalam bekerja mungkin terjadi kesalahan. Karyawan yang tidak mau berbesar hati mengakui kesalahannya, maka cenderung mencari kambing hitam agar ia terbebas dari sanksi. Solusi: antara atasan dan karyawan harus diberi pengertian bahwa mengakui kesalahan/masalah melalui komunikasi terbuka adalah jauh lebih baik daripada mencari kambing hitam.

D. Kecerobohan
Kecerobohan dalam bekerja dapat dicegah. Solusi: yang dibutuhkan adalah hati-hati dan penuh perhitungan dalam bekerja.

E. Kecelakaan
Walaupun sudah bekerja sesuai peraturan, tetapi kecelakaan dapat terjadi. Penyebab kecelakaan, misalnya tidak memperhatikan situasi kerja yang ada (rekan kerja, suasana kerja, terlalu memaksakan diri, nekat, dll) sehingga terjadi kecelakaan. Solusi: perlu komunikasi dengan atasan dan sesama karyawan serta aktif mengamati perubahan dalam lingkungan kerja dan masyarakat.



2.2 Respon atas Problem
Karyawan mungkin tertawa saat terjadi salah paham, salah persepsi, kambing hitam (scape goat), kecerobohan, dan kecelakaan (accident), tetapi tidak boleh marah jika orang lain yang juga menertawakannya. Kelima problem ini merupakan sumber masalah di perusahaan. Pemimpin yang baik seharusnya mengetahui penyebab masalah dan solusinya.
Problem lainnya adalah bagaimana jika diri sendiri yang menjadi korban. Dua sikap yang muncul saat menjadi korban adalah merasa diri sebagai korban lalu mencari korban baru (efeknya berulang); atau mau belajar. Karyawan yang menjadi korban dari masalah seharusnya mengajari karyawan yang lain agar tidak mengalami hal yang sama. Guru lebih pintar daripada murid karena guru selalu mengulangi. Ilmu harus diajarkan bukannya ditutupi. Karyawan dan atasan harus bekerja sama agar tidak jatuh sendirian ked lm lobang yang sama. Kalau ilmu itu diajarkan maka diri sendiri tidak akan lupa dan membuat orang lain jadi ikut pintar juga.
Kelima problem itu dapat diselesaikan dengan peraturan baru dan kerja sama yang baik dan jangan mengandalkan satu atau dua orang saja. Jangan mengambil keputusan jika sedang marah agar tidak membuat keputusan yang salah dan fatal. Problem muncul jika bekerja sendiri sehingga kita harus bekerja sama demi kemajuan pabrik. Tidak ada orang yang siap menghadapi problem, tetapi mereka dapat mempersiapkan agar masalah tidak terjadi lebih parah. Bila karyawan bekerja dengan benar, maka berkat itu datang. Kerja itu sebagai ibadah dan investasi.

2.3 Problem Solusion
Problem itu diartikan sebagai kesempatan, yaitu kesempatan untuk berkembang secara ilmu dan emosional melalui penyelesaian problem. Namun, di dalam problem itu tidak boleh mencari masalah lagi, dan problem tidak boleh dihadapi hanya sendiri. Attitude tiap karyawan dapat diketahui melalui terjadinya masalah itu dapat diketahui mana orang yg ber-attitude baik dan buruk. Sebelum terjadinya masalah, maka attitude karyawan harus baik dahulu. Tidak masalah apakah dia itu karyawan baru atau lama, yang penting adalah kemauan untuk belajar.
Mengenali karakter diri satu sama lain itu butuh waktu dan proses karena itu mengenali orang dimulai dari mengenal karakternya dulu. Karakter itu dapat mempengaruhi pekerjaan satu sama lainnya. Yang penting adalah para karyawan dengan berbagai karakter berbeda itu harus mau bekerja bersama untuk mencapai tujuan perusahaan.
Dengan kombinasi dari karakter itu, dampak yang diinginkan adalah kekuatan besar untuk menghasilkan perubahan yang lebih baik. Namun, tidak bisa memaksa orang lain berubah seperti yang perusahaan ingin, tetapi yang penting adalah karyawan mengetahui dan mengerti siapa dirinya sendiri. Karyawan yang tahu dan mengerti siapa dirinya sendiri adalah orang yang dapat dibantu dan mau belajar.

2.4 Keberhasilan Yang Penting (Ditujukan untuk Bagian Sales & Marketing)
Ada tiga jenis keberhasilan dalam sales dan marketing, yaitu product selling, personal selling, dan job selling.
• Product selling = produk yang bagus sehingga laku terjual, misalnya merek yang bagus. Sebelum karyawan bekerja di Perusahaan, teryata banyak yang tidak tahu tentang Produk Perusahaan.
• Personal selling = Kemampuan karyawan untuk menjual produk karena kepribadian menyenangkan sehingga bisa menjual produk. Produk bisa laris terjual karena personal serius mengerjakan dan karakter personal yang baik. Personal selling penting untuk semua karyawan agar dapat menjual produknya.
• Job selling = pekerjaan yang menyenangkan sehingga bisa menjual dengan baik. Karyawan harus mengetahui job description yang jelas dan spesifik. Job description akan diubah bila ybs pindah kerja.
Product selling, personal selling, dan job selling ini sama-sama penting, tetapi perlu diketahui kekuatan Perusahaan di mata karyawan dan di mata konsumen. Produk yang laku bukanlah produk yang karyawan suka, tetapi yang konsumen suka. Tugas marketing adalah memperkenalkan kwaci agar lebih dan semakin dikenal masyarakat. Jadi, karyawan harus mengenali diri sendiri, produk, dan target konsumen sehingga dapat menjual produk.
Executive mapping adalah pola pikir bahwa untuk menjadi perusahaan bagus, maka perusahaan harus didukung oleh karyawan yang “bintang”. Proses untuk menjadi karyawan bintang masih sangat terbuka. Misalnya proses itu dimulai dari reservoir (karyawan baru) ke problemer (Job Profile Model), lalu ke star; atau dimulai dari reservoir (karyawan baru) ke performers (personal value), lalu ke star. Penilaian kerja dilakukan secara objektif dari segi personal dan kinerja.
Pedoman perilaku karyawan dalam bekerja adalah pengalaman, sikap, pengetahuan. Setiap orang memiliki sisi kepribadian yang negatif, dan ybs harus diberitahu mengenai keburukannya itu, melalui beberapa cara agar tidak menyinggung perasaannya, misalnya tidak menimbulkan kesalahpahaman/merasa dihakimi; tiap orang bercermin sendiri saja sehingga mengetahui kelebihan dan kekurangan masing-masing; introspeksi diri sebelum menegur orang lain; tidak menghukum diri sendiri atau orang lain seumur hidup.

2.4 Attitude Kerja Yang Dibutuhkan oleh Konsumen
Beberapa macam attitude kerja yang ada, misalnya wibawa atau tabrak; karisma atau janji manis; rasa aman atau keras kepala; kebijaksanaan atau kritik. Baik konsumen maupun karyawan, membutuhkan partner kerja yang berwibawa, berkarisma, memberi rasa aman, dan bijaksana.
• Tampil berwibawa: belajar lebih sering untuk taat dan katakan “ya” dari dalam hati untuk setiap perintah (pekerjaan) yang diterima. Target: closing.
• Karisma: belajar lebih sering tersenyum dan memberi salam. Target: recruitment.
• Rajin dan damai: melakukan semua tugas di depan mata dan lebih sering mendengarkan respon konsumen, kemudian membuat laporannya. Target: persistency. Semua karyawan harus berikan laporan kerja secara teratur.
• Bijaksana: berpikir lebih sering dan lebih lama sebelum mengatakan tidak setuju atau mengkritik ide seseorang, dan ungkapkan dengan tertulis. Target: goal setting/planning.
Jebakan karakter: terlalu nekat, menghakimi, dan minder. Tidak perlu nekat menghadapi masalah sendiri. Konsultasi terlebih dahulu dan perlu banyak belajar juga sehingga dapat berjalan dengan baik. Atasan juga sebaiknya tidak terlalu overprotektif dan beri kepercayaan kepada karyawan untuk berkembang.

2.5 Kesimpulan
Karyawan dengan karakter yang berbeda-beda satu sama lain, tetapi perbedaan ini harus digunakan untuk fusion (bekerja sama dan bersatu), bukannya fision (memecah belah) demi kemajuan perusahaan. Semua dimulai dari pendidikan karakter. Pelajaran mengenai karakter itu perlu waktu, bahkan seumur hidup.

Selasa, 19 Oktober 2010

Kekuatan vs Kelemahan

Kekuatan vs Kelemahan: http://bit.ly/aDFA4A









Saat memberikan konseling dan program pelatihan (coach), kami sering mendapat pertanyaan sbb:
Apa itu kelemahan saya?
Apakah benar kelemahan harus diperbaiki?
Mengapa kekuatan sulit kita kenali dan menggunakannya?
Bagaimana cerita keberhasilan dan kegagalan seorang pemimpin karena "kekuatan dan kelemahan"-nya?

Untuk menjawab hal tersebut, kami memberikan penjelasan terlebih dahulu mengenai apa itu kekuatan seseorang yang bisa dideteksi dengan beberapa alat psychology dan terutama dengan metode Behavioral Styles Management. Kami menggunakan istilah kendaraan utama/paling cepat ybs dengan istilah "mobil" dan kendaraan paling lambat dengan istilah "becak". Bisa saja seseorang memiliki beberapa "mobil" tetapi pasti memiliki "becak". Demikian pula, walau seseorang memiliki beberapa "becak" pasti juga memiliki "mobil". Hal ini merupakan rahasia yang sangat luar biasa saat kita memikirkan bagaimana Tuhan memberikan begitu banyak kesempatan kita dibalik kesempitan. Memang tidak semua orang mampu melihat kekuatan dan kelemahan diri sendiri dan orang lain secara obyektif dan menggunakannya untuk sesuatu yang berguna.

Kekuatan seseorang tersebut bisa dikatakan "modal" apabila ybs bisa mengenali-nya dan menggunakannya atau melipat-gandakannya sehingga bisa disebut "potent". Sebaliknya kekuatan seseorang tersebut bisa juga menjadi perangkap atau racun sehingga membuat ybs menjadi "impotent".

Kekuatan seseorang tersebut belum bisa dikenali karena kalau diumpamakan, ibarat tubuh dan mulut seseorang secara fisik perlu untuk dirawat. Apabila tidak dirawat, kemungkinan besar ybs belum merasakan masalah dengan "bau badan dan bau mulutnya" tetapi tidak perlu lama-lama bagi orang lain untuk mengenali seseorang yang jarang mandi dan gosok giginya bukan? Oleh karena itu dalam tulisan kami sebelumnya tentang "Bangun Tidur Kuterus Mandi..." (Lihat di http://bestcharacters.blogspot.com/2010/10/bangun-pagi-kuterus-mandi-tidak-lupa.html) untuk mengerti persoalan karakter seumpama demikian lama mengajarkan seorang anak MANDIRI (mandi sendiri dan gosok gigi) selama 6-7 tahun untuk sebuah kegiatan yang cuma 10-15 menit.

Kembali soal kekuatan yang sebenarnya memiliki 2 akibat: Potential atau Impotential, Modal atau Racun. Kekuatan seorang pemimpin saat dia gunakan Wibawa-nya akan menghasilkan kekuatan yang bisa kita lihat dalam sejarah. Mereka menjadi dikenang dengan kata-kata mutiaranya seperti: Vini Vidi Vici, Time is Money, No Pain No Gain, All by Myself, I've Got The Power dsb... Tulisan ini tidak mencoba menghakimi baik atau jahat-nya seseorang apalagi dari hasil buah karyanya karena kita belajar bagaimana keberhasilan tersebut dilihat orang lain dan memang sejarah mencatatnya. Kita lihat juga keberhasilan dari salah satu kekuatan yang menjadi sikap: WIBAWA ini juga hancur bukan karena kelemahannya tetapi karena "jigong" atau "bau badan dan bau mulut" karakternya itu sendiri. Sudah sering kita lihat para pemimpin dan pembuat sejarah cerita sedih dari masa kejayaannya ternyata bersumber dari kekuatan karakternya ybs itu sendiri yang sekaligus juga membuka celah masuknya para musuh termasuk musuh dalam selimut. Nama lain dari "jigong" kekuatan Wibawa contohnya bisa kita sebut adalah "Premanisme", "Brutalisme", "Kesewenang-wenangan" dsb. Hal ini bisa terjadi karena bisa saja dari reaksi berantai dari seseorang yang tidak tahu bahwa berkat pasti datang kepada semua orang seperti hujan dan sinar matahari, tetapi bagaimana membuatnya berlipat-ganda diperlukan kesadaran obyektif bahwa "mengapa kita dipercaya lebih dituntut tanggung jawab yang lebih".

Contohnya, Bill Gates menulis kata sbb: Bila Anda terlahir miskin itu bukan kesalahan Anda, tetapi bila Anda mati dalam kemiskinan itu adalah kesalahan Anda. Coba kita renungkan dengan sikap yang positif dan benar, berarti ada kemungkinan seseorang bisa saja terlahir kaya, tetapi bila ybs belum mati saja sudah menjadi tidak kaya berarti ada yang salah dalam mengelolanya bukan?

Berdasarkan hasil pengamatan kami, sumber terjadinya masalah tersebut selalu dari kekuatan seseorang misalnya sikap Wibawa tadi tidak diperdalam dan dipelajari dengan teman kerjanya. Yang terjadi "jigong" mulai muncul yaitu mulai menabrak wewenang yang seharusnya di perbaharui, kemudian teman kerja mulai dikurangi tetapi teman main (termasuk main perasaan) makin banyak. Maka tidak heran proses yang terjadi adalah pembusukan yang bila tidak dicegah mengakibatkan habisnya sumber daya, waktu dan kesempatan.

Kami tidak sependapat bahwa contoh kelemahan seorang pria adalah 3 Ta: Wanita, Tahta dan Harta. Tetapi Jigong Kekuatan seseorang tersebut yang menjadi celah dan dibaca oleh musuh seorang pria tersebut dengan obyek 3 Ta tadi maka sudah pasti mangsa akan mudah dicaplok.

Cukup mengherankan, secara fakta ironis keberhasilan seseorang/kelompok menjebak karakter atau membunuh karakter dilakukan dan diekspose lebih banyak dari pada keberhasilah seseorang/kelompok dalam mengembangkan dan membangkitkan banyak orang. Untungnya masyarakat masih bisa sangat merindukan sikap positif (WIBAWA) seorang pemimpin seperti yang kita lihat dalam kasus Penyelamatan 33 petambang yang terperangkap dalam tambang dikedalaman hampir 700 meter selama 66 hari oleh karena inisiatif Wibawa Presiden Cile Sebastian Pinera, karena belum pernah terjadi kalau korban bisa bertahan hidup selama itu dan sekaligus Presiden sampai turun tangan! Dunia masih menulis di banyak surat kabar selama 1 minggu mengenai drama yang luar biasa tersebut bisa mengalahkan semua sinetron dalam negeri yang bersifat sebaliknya mengagung-agungkan "jigong" karakter sehingga bisa berseri-seri baik di TV maupun panggung politik negara kita.

Dengan tulisan singkat ini, penulis mau mencoba memberikan peran serta kepada seluruh teman-teman yang budiman, jangan berprasangka dengan yang namanya kekuatan yang ada didalam diri kita dan dalam orang lain. Manfaatkanlah maka otomatis PeDe kita akan meningkat dengan signifikan seyakin kita yang baru mandi dan gosok gigi untuk ketemu dengan orang lain. Demikian pula bila kekuatan tersebut tidak kita pakai, maka pasti bersifat "racun" baik untuk diri sendiri maupun orang lain.Jadi bagaimana kalau kita masih ditanya dan memang masih punya yang namana kelemahan (becak) itu indikasi bahwa kita butuh teman. Oleh karena itu segeralah cari mereka yang punya kekuatan untuk mengatasi kelemahan kita tentunya secara obyektif bukan?

Salam Karakter,
William Wiguna
penulis adalah pemerhati dan praktisi Manajemen Perilaku)

Rabu, 13 Oktober 2010

"Bangun pagi kuterus mandi, tidak lupa menggosok gigi..."









Sepotong lagu yang selalu populer saat kita masih balita dan dipopulerkan langsung oleh orang tua atau orang terdekat kita saat itu. Mengapa lagu ini begitu populer dan sangat mudah untuk dinyanyikan bahkan terus teringat sampai dengan dewasa. Kami sudah survey hampir semua peserta dewasa dalam kelas kami masih mengenal dengan baik kata-kata dan irama lagu ini dan tidak ada yang merasa malu ketika disuruh ulang bahkan bersedia ramai-ramai menyanyikannya.



Catatan ini hendak menjelaskan betapa sulitnya mengajarkan seseorang MANDIRI (mandi sendiri) dan gosok gigi, sehingga perlu dibuat sebuah lagu yang menyenangkan dan mengajak seorang anak sejak dini bahwa pentingnya mandi dan gosok gigi.



Di dalam kelas, pertanyaan yang diajukan adalah berapa lama kita mengajarkan seorang anak dari bayi sampai dia bisa mandi dan gosok gigi sendiri, banyak yang menjawab dari nol sampai dengan 5-7 tahun baru kebiasaan ini bisa melekat dan bisa melakukannya sendiri. Lama atau sebentar coba kita sendiri yang merenungkannya karena pastinya kita yang dewasa telah melewati tahapan itu bukan? Kecuali memang kita tidak mau membiasakan lagi kebiasaan mandi dan gosok gigi tersebut.



Kemudian pertanyaan berlanjut, sampai usia berapa seseorang baru tahu manfaat utama dari mandi dan gosok gigi seperti misalnya mengurangi bau badan dan bau mulut dengan melakukan kebiasaan tersebut, maka jawaban ini sangat bervariasi. Rata-rata mereka menyadari setelah usia akil balik bahkan usia dewasa. Bayangkan itulah situasi dan kondisi nyata, bagaimana membangun perilaku yang baik untuk tubuh fisik yang manfaatnya sangat-sangat jelas dan proses seseorang bisa menyadarinya dan nantinaya akan menjadi kebudayaan keluarganya di kemudian hari.



Mengapa harus rajin dan rutin mandi serta gosok gigi, kira-kira demikian gambarannya, setiap pagi ketika kita bangun, maka tubuh dan mulut kita akan mengeluarkan sisa-sisa atau racun dari hasil metabolisme dalam tubuh dan mulut, maka bisa dipastikan mengeluarkan bau yang tidak sedap. Masalahnya kalau tidak dibiasakan dibersihkan, bisa dibayangkan bagaimana bisa nyaman bertemu dengan orang lain dengan daki atau "jigong" bukan? Jadi, jangan salahkan bau badannya atau bau mulutnya karena itu adalah sangat normal bagi manusia yang hidup normal, tetapi apakah perawatannya sudah normal atau belum.



Begitulah cerita bagaimana kita menjelaskan persoalan perilaku seseorang. Setiap karakter pasti menghasilkan juga seumpama cerita di atas. Pelajaran mengenai kelemahan dan kekuatan karakter tidak kami jelaskan di dalam note ini, tetapi sisi negatif dari kekuatan karakter seseorang itu yang sebenarnya mengancam cara kerja atau berinteraksi dengan orang lainnya. Hal ini yang sering dilupakan bahkan tidak diajarkan setelah seseorang itu mulai sekolah. Mereka tidak diketahui bagaimana mendeteksi "bau mulut" atau "bau badan" karakternya. Semakin kuat karakter seseorang, dan tidak diimbangi dengan pengelolaan karakternya maka semakin kuat "bau mulut" yang dirasakan oleh orang-orang sekitarnya.



Bagi mereka sekitarnya pasti sangat kesulitan menjelaskan atau memberikan info kepada yang bersangkutan karena ini berlaku kondisi cerita "MEMBOCORKAN RAHASIA NEGARA" (bisa dilihat di artikel kami di http://bestcharacters.blogspot.com/2009/05/rahasia-membaca-orang-lain-dalam-10.html).



Oleh karena itu sering kali didalam pelatihan memberikan perumpamaan sbb: Seandainya saya mempunyai sahabat karib dan di depan orang yang banyak, terlihat mukanya ada kotoran, tentunya saya pasti berinisiatif untuk memberi tahu nya bukan? karena berisik atau situasi di depan umum, saya merasa cukup kasih isyarat. Tetapi katakanlah sahabat saya tersebut tidak mengerti juga dan akhirnya saya mendekati dan langsung membersihkan mukanya dengan tangan saya karena telah dikasih tahu tapi ngga bisa membersihkannya sendiri. Sampai tahap ini setiap orang pasti setuju niat baik saya membersihkan muka sahabat saya. Akan tetapi tanpa disadari, karena dilakukan di depan orang banyak, sahabat saya justeru tidak menerima "cara" saya tersebut. Sehingga kita semua bisa tahu akhir cerita ini yaitu kemungkinan sahabat saya sakit hati bukan?



Berarti, tiap kali kita melihat "bau mulut" atau "bau badan" seseorang bisa diibaratkan dengan perumpamaan diatas, sangat beresiko sekali bila seorang yang apalagi sudah merasa dekat atau pasangan suami-isteri sekalipun yang mencoba meng-"gosok gigi" atau "memandikan" perilaku orang lain bukan? Ibarat pilihan kita cuma dua: Tega melihat orang tsb memalukan selamanya atau memberi tahu/langsung mengoreksi dengan resiko dimusuhi selamanya. Bisa dibayangkan juga bila hal tersebut dilakukan berulang-ulang di depan umum?

Seperti contoh seorang atasan yang bingung memberitahu bawahannya yang terkenal galak supaya jangan galak, atau seorang suami yang mencoba memberitahu agar isterinya jangan terlalu pelit, atau seorang sahabat yang mencoba memberitahu supaya temennya jangan berbohong terus dan seorang guru yang memperingatkan muridnya supaya jangan "ngeyel" kalau dikasih tahu.



Semua hal tersebut pasti atas dasar niat yang baik, tetapi hasilnya bisa menjadi bencana dan berakibat sakit hati seumur hidup walaupun sudah saling memaafkan.



Oleh karena itu ini bukan soal orang tersebut punya agama atau tidak, berpendidikan atau tidak, berpengalaman atau tidak, tetapi belum atau jarang diajarkan bagaimana pentingnya "Mandi dan Gosok Gigi" karakternya belum lagi "sabun dan odolnya" yang berbeda-beda.



Secara ringkas, kami menjelaskan didalam kelas, yaitu kembali dengan cerita saya dan sahabat saya yang mukanya kotor, saya memberikan cermin kepadanya. Maka dalam 1-2 detik ybs bisa langsung mengerti problemnya dan saya selamat dari resiko "membocorkan rahasia negara"-nya bukan? Dan ybs bisa langsung melakukan introspeksi dan membersihkan nodanya sendiri, tanpa harus berlama-lama saling menderita atau salah paham.



Demikianlah ilustrasi yang kami berikan bagi teman-teman yang mungkin mengalami hal serupa baik dibidang bisnis, sosial dan keluarga. Betapa pentingnya kita mengerti cara menggunakan cermin dan bekerja sama dengan Coach sebagai "stylist". Hal ini bukan berarti cermin yang paling penting, tetapi bagaimana dia nantinya kemudian menggunakan cermin untuk lebih mempercantik atau menjadi lebih ganteng karakternya bersama dengan Coach. Juga seorang Stylest atau Coach tidak akan bisa memberikan pelayanan yang benar bila tidak memiliki tools yang tepat dan VALID. Sampai kapan? Bukankah seumur hidup kita bisa bekerja sama GRATIS lebih baik?



Salam karakter!

by: William Wiguna, Owner and Managing Partner Care Plus Indonesia®

www.careplusindonesia.com

www.bestcharacters.blogspot.com

Program Solusi Bisnis @ FM 100.6 Heartline Jkt, Radio Streaming www.heartline.co.id setiap jam 8-9 Sabtu Pertama Dan Ketiga.

Program Konsultasi Bisnis @ Tabloid Wanita Indonesia.



Care Plus Indonesia®The First Life Time® GUARANTEE Program & Counseling

Kamis, 21 Januari 2010