Total Tayangan Laman

Entri Populer

Senin, 21 November 2011

CARE PLUS

CARE PLUS

Meng"harga"i Kelemahan

Meng”harga”i Kelemahan

Sangat sulit bahkan tersembunyi buat kita yang menterjemahkan secara teori apa itu "menghargai kelemahan". Bahkan kita cenderung menghindari dan sangat jengkel bila seseorang mengungkit2 kelemahan diri kita. Sebaliknya kalau kita membicarakan kelemahan orang lain atau bisa juga meng-gosip-kan orang lain betapa kita cenderung mau tahu dan rasanya kita jadi tampak "lebih suci" dari orang tersebut.

Mengapa kita memiliki kecenderungan seperti ini?
Mungkin dengan sebuah cerita bisa kita lebih mengerti kondisi tersebut:
Di dalam sebuah pesta, ada sekelompok Ibu2 sedang ber-gosip ria, dan tepat ketika itu ada seorang Ibu lain yang melewati kelompok ini. Seorang Ibu katakanlah si Polan, yang sedang asyik berbicara langsung melongo dan berkomentar tentang Ibu yang baru lewat tsb, “tuh, lihat sombong sekali wanita itu. Mentang2 kaya pakai anting berlian sebesar itu? Mau pamer sama siapa sih? Dasar sombong sekali ya tuh?”. Dan teman-temannya seperti dikomando langsung bersetuju-ria dan lanjut mendiskusikan serta bergosip ke”sombong”an sang Ibu ber-anting berlian yang sudah jauh melewati mereka.

Sekarang, menurut Anda siapakah sang Ibu yang sombong sebenarnya? Sangat mudah sekali bukan melihat bahwa dia yang melontarkan justeru dialah yang menunjukkan dirinya sebagai seorang yang sombong. Sebagaimana kita mengukur orang lain demikianlah diri kita diukur.

Mungkin Anda akan segera berkilah, “wah kalau aku yang disitu sih ngga bakalan terpancing dan akan cuekin tuh si Polan atau sang Ibu ber-anting berlian” atau “saya pasti akan tegur si Polan” serta mungkin “ngapain sih ngomongin orang lain...”. Mungkin juga Anda sesudah membaca cerita tadi dan langsung bisa melihat situasi dengan obyektif. Akan tetapi saat Anda yang di situasi yang mungkin mirip seperti itu ketika berdiskusi soal pimpinan yang hobi menyanyi di mana2, anggota DPR yang berani pamer mobil bernilai milyar-an, soal kekayaan pejabat dsb, apakah Anda bisa merasa lebih obyektif seperti merespon cerita si Polan tadi? Atau ikutan menjadi hakim atau cuma mem”bumbu”i-nya?

Amat sangat baik bila kita sendiri sebenarnya bisa melakukan hal yang sama ketika melihat kelemahan orang lain, sebenarnya itulah cermin kelemahan yang ada pada diri kita sendiri. Konyolnya, kita sendiri yang melakukan pengakuan di depan orang terdekat dengan diri kita karena merasa semakin leluasa. Sebagai ilustrasi adalah sbb: ada seorang suami yang disindir terus tiap hari oleh sang isteri bahwa tiap pagi sang istri tetangga selalu dicium mesra oleh suaminya sebelum berangkat kerja. Tanpa sadar sang suami langsung menjawab, “... saya juga mau banget cium si isteri tetangga tsb tiap hari tapi takut dia ngga mau...” Apa kira-kira reaksi sang isteri setelah tahu apa yang ada di pikiran sang suami?

Terlalu banyak teori atau “gajah depan mata tidak kelihatan, semut di seberang lautan terlihat” atau “balok depan mata tidak tampak, debu di mata orang tampak”, yang terjadi dan bisa kita menertawakan diri sendiri. Saya sendiri masih berjuang contohnya, sering bisa ingatkan anak saya untuk selalu disiplin kalau sedang main game, tetapi kalau sedang asyik main game sama saja rupanya. Karena baik isteri maupun anak juga ribut kalau saya lagi asyik dan diajak bicara tidak pernah bisa konsentrasi.

Dengan tiga ilustrasi di atas kita sudah bisa melihat apa yang disebut kelemahan bukan? Kelemahan itu tidak akan pernah disadari oleh ybs walaupun dikasih tahu oleh orang yang terdekat dengan diri kita. Mungkin juga dengan diri kita sendiri lho! yaitu bila kita sendiri tidak bisa menerima atau tidak bisa ikhlas (http://www.youtube.com/watch?v=uhrZN3mHeww). Cara kita membela diri bahkan dilengkapi dengan kambing hitam, adalah cara kuno kita untuk meng-“harga”i kelemahan diri kita yang tentu saja sangat tidak tepat bukan? Lebih tepatnya kita bisa ber”cermin” bukan dengan orang lain tetapi ber”cermin”-lah dengan diri kita (http://www.youtube.com/watch?v=ql_FdvD5nNs&feature=related).

Menghargai kelemahan dengan lebih baik bisa dimulai juga dengan menonton film ini (http://www.youtube.com/watch?edit=vd&v=NgmnE-nBpjk) yaitu cerita tentang kesaksian seorang isteri yang memberikan kata-kata kenangan terakhir saat pemakaman sang suami. Kelemahan sang suami seperti suka ngorok dan kentut saat tidur dulunya sangat mengganggu, tetapi sang isteri bisa cepat memahami kalau justeru saat sang suami saat sakit keras, bahwa ngorok dan kentut adalah tanda sang suami masih bertahan hidup. Demikianlah saat sungguh-sungguh sang suami sudah tiada, sang isteri bisa testimoni bahwa (maaf) ngorok dan kentut adalah “beautifully imperfection that make perfect”.

Sekarang kembali kepada kita, bagaimana kita bisa mengenali dan men”siasati” kelemahan tersebut? Memang perlu waktu dan teman seumur hidup untuk seutuhnya kita “tahu diri” dan akhirnya bisa bilang, Terima Kasih Tuhan karena telah Engkau ijinkan untuk memakai pasangan, keluarga dan teman-teman membuat saya semakin wangi di dalam perjalanan kembali kepada YME...

Perlu teman untuk berdiskusi seumur-hidup soal “kelemahan” (IMPERFECTION) yang bisa menjadi KEKUATAN KITA (PERFECTION in OUR LIFE)? Join atau hubungi kami di www.careplusindonesia.com atau di FB GROUP: https://www.facebook.com/groups/careplusindonesia/

Salam Karakter,
Ir. William Wiguna, CPHR., CBA., CPI.
Care Plus Indonesia®
The First Life Time® Program & Counseling

PIN BBM: 2144922D
Twitter @williamwiguna
FB: William Wiguna
HP: 0818-839469, 021-94746539
william.wiguna@gmail.com
william@careplusindonesia.com

www.careplusindonesia.com (NEW, REDESIGNED!)
www.bestcharacters.blogspot.com