Total Tayangan Laman

Entri Populer

Minggu, 18 September 2011

Pa HP saya kecebur di toilet...

Begitu kata anak saya di pagi hari. Respon pertama saya adalah langsung bergegas melihat bagaimana posisi HP anak saya. Tentu saja sudah kondisi matot (mati total). Sebenarnya saya tahu berdasar beberapa kali kejadian, HP yang tercebur seharusnya cepat di copot baterainya. Anak saya ternyata belum tahu sehingga setelah tercebur cuma di lap kering lalu dipasang dan itu kejadiannya 24 jam yang lalu.

Kelihatannya ini soal sepele, bagaimana mengimbangi rasa jengkel karena HP mahal rusak dan pelajaran yang harus diberikan kepada anak. Yang jelas setelah bertanya kenapa baru lapor setelah 1 hari, saya mulai mengerti kalau memang saya yang belum sempat ketemu muka dengan anak saya karena kesibukan masing-masing. Memang anak saya belajar minta maaf tetapi saya memberikan pelajaran bahwa walau dia sudah meminta maaf, biaya harus dikeluarkan untuk perbaikan.

Dalam kesempatan ini saya ingin menjelaskan apa itu arti kata: “Memberikan pujian, tantangan, maaf atau nasihat adalah penuh resiko”. Memang itu bisa terjadi kapan saja, dimana saja dan siapa saja. Apalagi terhadap anak sendiri bukan?

Demikianlah saya selalu mencoba merenungi kembali tindakan dan perkataan dari lingkungan saya dan anak saya pada pagi ini. Saya bertanya apakah kita mau menghindari resiko atau mensiasati resiko? Saya menjelaskan dengan cara melihat bahwa resiko itu adalah KUANTITATIF (Besar atau Kecil) dan bukan KUALITATIF (Ada atau Tidak).

Memiliki HP berarti secara otomatis ybs langsung memiliki resiko. Nah, bagaimana kita meminimalisasi resiko itu adalah dibutuhkan skill/pengalaman dan pengetahuan. Menggunakannya untuk tujuan berguna atau tidak dibutuhkan sikap (attitude).

Merawat HP berarti juga memiliki resiko. Sekalipun kita pakai HP dekat air yang walaupun kecil (seperti toilet), maka akan meningkatkan resiko kerusakan. Oleh karena itu diperlukan kewaspadaan yang lebih baik. Apabila sekalipun HP tsb terkena resiko seperti tercebur, marah dan maaf pun tidak akan mengubah kondisi HP. Jadi justeru disinilah sikap seseorang diuji. Sebelum dan sesudah HP rusak, penilaian orang lain sebenarnya beralih kepada sikap kita. Jangan lagi didebat soal biaya.

Semoga pelajaran ini juga membuat saya lebih siap mengambil sikap yang tepat karena itu pun saya sudah MENAMBAH lagi resiko, tetapi kali ini ada anak saya yang menjadi teman saya memahami masalah yang akan datang. Nathanael, papa tetap sayang walaupun biayanya memang sudah, sedang dan akan tidak sedikit...