Total Tayangan Laman

Entri Populer

Rabu, 13 Oktober 2010

"Bangun pagi kuterus mandi, tidak lupa menggosok gigi..."









Sepotong lagu yang selalu populer saat kita masih balita dan dipopulerkan langsung oleh orang tua atau orang terdekat kita saat itu. Mengapa lagu ini begitu populer dan sangat mudah untuk dinyanyikan bahkan terus teringat sampai dengan dewasa. Kami sudah survey hampir semua peserta dewasa dalam kelas kami masih mengenal dengan baik kata-kata dan irama lagu ini dan tidak ada yang merasa malu ketika disuruh ulang bahkan bersedia ramai-ramai menyanyikannya.



Catatan ini hendak menjelaskan betapa sulitnya mengajarkan seseorang MANDIRI (mandi sendiri) dan gosok gigi, sehingga perlu dibuat sebuah lagu yang menyenangkan dan mengajak seorang anak sejak dini bahwa pentingnya mandi dan gosok gigi.



Di dalam kelas, pertanyaan yang diajukan adalah berapa lama kita mengajarkan seorang anak dari bayi sampai dia bisa mandi dan gosok gigi sendiri, banyak yang menjawab dari nol sampai dengan 5-7 tahun baru kebiasaan ini bisa melekat dan bisa melakukannya sendiri. Lama atau sebentar coba kita sendiri yang merenungkannya karena pastinya kita yang dewasa telah melewati tahapan itu bukan? Kecuali memang kita tidak mau membiasakan lagi kebiasaan mandi dan gosok gigi tersebut.



Kemudian pertanyaan berlanjut, sampai usia berapa seseorang baru tahu manfaat utama dari mandi dan gosok gigi seperti misalnya mengurangi bau badan dan bau mulut dengan melakukan kebiasaan tersebut, maka jawaban ini sangat bervariasi. Rata-rata mereka menyadari setelah usia akil balik bahkan usia dewasa. Bayangkan itulah situasi dan kondisi nyata, bagaimana membangun perilaku yang baik untuk tubuh fisik yang manfaatnya sangat-sangat jelas dan proses seseorang bisa menyadarinya dan nantinaya akan menjadi kebudayaan keluarganya di kemudian hari.



Mengapa harus rajin dan rutin mandi serta gosok gigi, kira-kira demikian gambarannya, setiap pagi ketika kita bangun, maka tubuh dan mulut kita akan mengeluarkan sisa-sisa atau racun dari hasil metabolisme dalam tubuh dan mulut, maka bisa dipastikan mengeluarkan bau yang tidak sedap. Masalahnya kalau tidak dibiasakan dibersihkan, bisa dibayangkan bagaimana bisa nyaman bertemu dengan orang lain dengan daki atau "jigong" bukan? Jadi, jangan salahkan bau badannya atau bau mulutnya karena itu adalah sangat normal bagi manusia yang hidup normal, tetapi apakah perawatannya sudah normal atau belum.



Begitulah cerita bagaimana kita menjelaskan persoalan perilaku seseorang. Setiap karakter pasti menghasilkan juga seumpama cerita di atas. Pelajaran mengenai kelemahan dan kekuatan karakter tidak kami jelaskan di dalam note ini, tetapi sisi negatif dari kekuatan karakter seseorang itu yang sebenarnya mengancam cara kerja atau berinteraksi dengan orang lainnya. Hal ini yang sering dilupakan bahkan tidak diajarkan setelah seseorang itu mulai sekolah. Mereka tidak diketahui bagaimana mendeteksi "bau mulut" atau "bau badan" karakternya. Semakin kuat karakter seseorang, dan tidak diimbangi dengan pengelolaan karakternya maka semakin kuat "bau mulut" yang dirasakan oleh orang-orang sekitarnya.



Bagi mereka sekitarnya pasti sangat kesulitan menjelaskan atau memberikan info kepada yang bersangkutan karena ini berlaku kondisi cerita "MEMBOCORKAN RAHASIA NEGARA" (bisa dilihat di artikel kami di http://bestcharacters.blogspot.com/2009/05/rahasia-membaca-orang-lain-dalam-10.html).



Oleh karena itu sering kali didalam pelatihan memberikan perumpamaan sbb: Seandainya saya mempunyai sahabat karib dan di depan orang yang banyak, terlihat mukanya ada kotoran, tentunya saya pasti berinisiatif untuk memberi tahu nya bukan? karena berisik atau situasi di depan umum, saya merasa cukup kasih isyarat. Tetapi katakanlah sahabat saya tersebut tidak mengerti juga dan akhirnya saya mendekati dan langsung membersihkan mukanya dengan tangan saya karena telah dikasih tahu tapi ngga bisa membersihkannya sendiri. Sampai tahap ini setiap orang pasti setuju niat baik saya membersihkan muka sahabat saya. Akan tetapi tanpa disadari, karena dilakukan di depan orang banyak, sahabat saya justeru tidak menerima "cara" saya tersebut. Sehingga kita semua bisa tahu akhir cerita ini yaitu kemungkinan sahabat saya sakit hati bukan?



Berarti, tiap kali kita melihat "bau mulut" atau "bau badan" seseorang bisa diibaratkan dengan perumpamaan diatas, sangat beresiko sekali bila seorang yang apalagi sudah merasa dekat atau pasangan suami-isteri sekalipun yang mencoba meng-"gosok gigi" atau "memandikan" perilaku orang lain bukan? Ibarat pilihan kita cuma dua: Tega melihat orang tsb memalukan selamanya atau memberi tahu/langsung mengoreksi dengan resiko dimusuhi selamanya. Bisa dibayangkan juga bila hal tersebut dilakukan berulang-ulang di depan umum?

Seperti contoh seorang atasan yang bingung memberitahu bawahannya yang terkenal galak supaya jangan galak, atau seorang suami yang mencoba memberitahu agar isterinya jangan terlalu pelit, atau seorang sahabat yang mencoba memberitahu supaya temennya jangan berbohong terus dan seorang guru yang memperingatkan muridnya supaya jangan "ngeyel" kalau dikasih tahu.



Semua hal tersebut pasti atas dasar niat yang baik, tetapi hasilnya bisa menjadi bencana dan berakibat sakit hati seumur hidup walaupun sudah saling memaafkan.



Oleh karena itu ini bukan soal orang tersebut punya agama atau tidak, berpendidikan atau tidak, berpengalaman atau tidak, tetapi belum atau jarang diajarkan bagaimana pentingnya "Mandi dan Gosok Gigi" karakternya belum lagi "sabun dan odolnya" yang berbeda-beda.



Secara ringkas, kami menjelaskan didalam kelas, yaitu kembali dengan cerita saya dan sahabat saya yang mukanya kotor, saya memberikan cermin kepadanya. Maka dalam 1-2 detik ybs bisa langsung mengerti problemnya dan saya selamat dari resiko "membocorkan rahasia negara"-nya bukan? Dan ybs bisa langsung melakukan introspeksi dan membersihkan nodanya sendiri, tanpa harus berlama-lama saling menderita atau salah paham.



Demikianlah ilustrasi yang kami berikan bagi teman-teman yang mungkin mengalami hal serupa baik dibidang bisnis, sosial dan keluarga. Betapa pentingnya kita mengerti cara menggunakan cermin dan bekerja sama dengan Coach sebagai "stylist". Hal ini bukan berarti cermin yang paling penting, tetapi bagaimana dia nantinya kemudian menggunakan cermin untuk lebih mempercantik atau menjadi lebih ganteng karakternya bersama dengan Coach. Juga seorang Stylest atau Coach tidak akan bisa memberikan pelayanan yang benar bila tidak memiliki tools yang tepat dan VALID. Sampai kapan? Bukankah seumur hidup kita bisa bekerja sama GRATIS lebih baik?



Salam karakter!

by: William Wiguna, Owner and Managing Partner Care Plus Indonesia®

www.careplusindonesia.com

www.bestcharacters.blogspot.com

Program Solusi Bisnis @ FM 100.6 Heartline Jkt, Radio Streaming www.heartline.co.id setiap jam 8-9 Sabtu Pertama Dan Ketiga.

Program Konsultasi Bisnis @ Tabloid Wanita Indonesia.



Care Plus Indonesia®The First Life Time® GUARANTEE Program & Counseling

Tidak ada komentar:

Posting Komentar