Total Tayangan Laman

Entri Populer

Senin, 10 November 2008

Lesson from Obama

From: Michell Suharli

Mengapa di America,mereka dapat melakukan apa yang mereka lakukan dan menerima kekalahan secara "sportive" dan mendukung yang menang dalam pemilihan?
Karena mereka semua(hampir semuanya),mempunyai kebanggaan akan negaranya,U. S.A. dan mementingkan nasib Negaranya daripada dirinya sendiri.
Perasaan NATIONALISTIC inilah (dan bukan Individualistic) yang dinegara kita,Indonesia, perlu dikembangkan kembali bila kita mau maju.
BDT

MA 144 : BARRACK OBAMA, DEMOKRASI DAN KE-BHINNEKA TUNGGAL IKA-AN AMERIKA (6 Oktober 2008)

Obama telah resmi terpilih menjadi presiden AS ke-44 dengan kemenangan mutlak melawan John Mc. Cain. Dan dalam sejarah, inilah kali pertamanya Amerika dipimpin oleh seseorang yang mempunyai keturunan Afrika Kenya, berkulit hitam. Dia unggul atas Mc. Cain dengan 60 juta suara melawan 54 juta suara. Dan sejarah juga mencatat jumlah pemilih presiden kali ini merupakan yang terbanyak selama 100 terakhir yaitu sebanyak 135 juta orang.

Apa yang bisa kita petik dari pemilihan presiden AS ini?
Pertama, tentang demokrasi sendiri. Proses demokrasi yang ditunjukkan oleh Amerika bisa kita jadikan contoh bagaimana kita bersaing untuk jadi pemimpin. Perang hebat dengan kata-kata, bersaing keras dengan menunjukkan program, berdebat sengit dalam forum, tetapi tidak lupa berjabat tangan setelah semuanya selesai. Tentu kita semua masih ingat pada pidato Hillary Clinton pada konvensi Demokrat sebelumnya, yang mendukung Obama, ketika tahu dirinya sudah pasti kalah. Isi pidatonya kira-kira demikian, "Saya mengakui bahwa saya kalah dalam pemilihan ini, selamat untuk dia. Kini saya akan memberikan suara untuknya, dan juga menyerukan semua pendukung saya untuk memilihnya." Begitu juga dengan Mc. Cain yang 30 menit setelah Obama dinyatakan sebagai pemenang, langsung memberikan pidato pengakuannya "Terima kasih telah datang di sore hari yang indah di Arizona ini. Kita sudah pengakhiri pertarungan panjang. Amerika sudah berbicara dan nada
mereka sudah jelas. Beberapa saat lalu saya merasa terhormat untuk memberi ucapan selamat kepada Obama." Mc. Cain juga mengajak semua rakyat AS kini bersatu bersama Obama untuk menyelesaikan tantangan besar yang menghadang.

Hebat kan? Sementara kolumnis Kompas Budhiarto Sambazy mencatat, belum ada satu pun presiden Indonesia yang memberikan selamat kepada presiden pengganti berikutnya. Mulai dari Bung Karno, Pak Harto, Habibie, Gus Dur, Megawati tidak memberikan ucapan selamat kepada penggantinya, dengan -mungkin- berbagai alasan. Kita berharap SBY mau memberikan selamat kepada presiden penggantinya nanti, jika ia kalah dalam pemilihan.

Kedua, tentang ke-Bhinneka Tunggal Ika-an. Tampak terlihat bahwa AS (yang nota bene sangat bhinneka), yang dulu pernah punya masalah rasial keras (misal dengan gerakan Ku Klux Klan), kini makin lama makin terlihat Tunggal Ika-nya. Rakyat AS yang bukan kulit putih kini semakin bangga dan cinta dengan negaranya, karena AS telah berhasil membuktikan bahwa warna kulit dan ras bukan lagi merupakan masalah/ hambatan untuk maju. Indonesia yang jelas mempunyai semboyan "Bhinneka Tunggal Ika" harus malu, jika masih ada pertikaian antar desa, warga, suku, ras atau antar golongan lagi. Kasus-kasus seperti Ambon, Kalimantan, Banyuwangi, bentrok desa di Cirebon, tawuran kampus seperti diantara kampus UKI-YAI-UBK harus dihentikan, jika kita ingin menjadi bangsa besar yang Tunggal Ika.

Apakah ada relevansinya bagi kita di perusahaan? Jelas ada. Peruahaan yang analoginya adalah negara kecil, jelas akan lebih baik jika dijalankan dengan demokrasi (yang didasari dengan peraturan dan disiplin yang baik terlebih dahulu) dan ke-Bhinneka Tunggal Ika-an yang kuat. Jangan terjadi lagi pemilihan kandidat seorang manajer atau direktur membawa pertikaian antar calon, pendukungnya, atau bahkan sampai pada pertentangan antar divisi. Kita juga bisa belajar bahwa dalam pemberian remunerasi tidak boleh lagi berdasarkan ras, golongan, agama atau sukunya, tetapi dinilai dari performa, kinerja dan prestasinya.

Sebagai penutup,kita bisa lihat dua pendapat unik berikut ini:

Dari beberapa warga AS yang diwawancarai mengenai presiden AS dan kaitannya dengan ras: "Kami tak peduli, apakah presiden Amerika nanti berkulit putih, hitam, merah, oranye atau hijau sekalipun. Jika dia memang bisa membawa negara ini menjadi lebih baik, mengapa tidak?"
Atau yang lebih jauh lagi metafornya dari seorang sopir taksi, ketika membawa seorang dosen bepergian. Ketika dosen itu bertanya tentang presiden ideal untuk Indonesia, sang sopir berkata: "Saya sih gak mau peduli presiden kita mau dari golongan apa. Bahkan biar presiden saya Gorilla-pun, jika dia bisa membuat bangsa maju dan makmur, saya akan dukung. "
Selamat menjadi manusia yang melihat manusia bukan dari suku, ras, agama, golongan dan warna kulitnya...

Tidak ada komentar:

Posting Komentar